Skip to content

ANTIVAX UNVEILED

4 Juli 2012

12 Juli 2012

14 Juli 2012

 

antivax sering posting berita yg bikin galau, atau artikel yg salah translate,

yuk didokumentasikan, berita dr antivax dan bantahan nya 😀

biar tambah canggih kasih argumen nya 😀

 

 

BANTAHAN THDP KESALAHAN2 DLM BUKU YG DITULIS OLEH UMMU SALAMAH AL HAJAM

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/doc/322420914499072/

 

ARIKEL SESAT yg legendaris TENTANG VAKSIN

http://un2kmu.wordpress.com/2010/04/19/mengungkap-konspirasi-imunisasi-dan-bahaya-vaksin/

bantahan:

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/05/03/bahaya-imunisasi-telaah-tahap-i/

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/05/13/bahaya-imunisasi-telaah-tahap-ii/

 

 

urbanlegend yg bilang Bu SITI FADHILAH SUPARI itu antivax, bohong!

“Buku saya tidak membicarakan soal imunisasi. Tetapi mengapa sampai berdasarkan buku saya, mereka tidak imunisasi,” katanya.”

 http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/12/07/lvtlhq-wahbukunya-jadi-alasan-tolak-imunisasi-ini-jawaban-siti-fadilah-supari

 

 

KEBOHONGAN dg MENYEMBUNYIKAN FAKTA ttg ASI dan HIV

http://preventdisease.com/news/12/061512_New-Research-Shows-Breast-Milk-Blocks-HIV-Does-Not-Transmit-The-Virus-Contrary-To-Previous-Assumptions.shtml

bantahan:

dari dr.Any

ini penelitian kan tujuannya utk mengetahui apakah seorang ibu yg HIV+ diperbolehkan memberikan ASI kepada bayinya, karena memang sampe sekarang penularan HIV-AIDS lewat ASI itu debatable. jadi ga ada hubungannya dg vaksin2 yg kita gunakan. hati2 dg pernyataan yg sifatnya memelintir kesimpulan penelitian.

dari dr.Laksmi Syarif

pada tulisan di link TS di preventivedisease.com ada ketidakjujuran dlm penulisan ulang dari jurnal aslinya. Di jurnal asli, author menulis bahwa HIV dapat ditularkan melalui ASI, namun apabila si ibu tidak dapat menyediakan pengganti ASI secara terus menerus, tidak tersedia air bersih untuk membuat PASI maka pemberian ASI termasuk aman selama ibu dan bayi mendapat obat ARV.Jadi jurnal tersebut bertujuan untuk melihat seberapa aman pemberian ASI dari ibu HIV yg mendapat ARV, bukan utk mencegah atau mengobati HIV. Hati2 preventivedisease.com termasuk web antivac, ada iklan jualan suplemen disitu ;p 

jurnal asli:

http://www.plospathogens.org/article/info:doi/10.1371/journal.ppat.1002732

 

 

AUTISME pada MONYET

http://vactruth.com/2012/04/29/monkeys-get-autism/ 

bantahan:

**link di Gesamun

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/324859597588537/

**sumber asli

http://scienceblogs.com/insolence/2010/07/16/too-much-vaccineautism-monkey-business-f/

 

 

 

MR. JERRY GRAY yg terkenal

http://mayaayu.multiply.com/journal/item/106

bantahan:

http://genenetto.blogspot.com/2011/10/menjawab-kritikan-terhadap-artikel.html

http://genenetto.blogspot.com/2011/10/jangan-menolak-vaksinasi-untuk-utamakan.html

 

 

 

KEBOHONGAN yang MEMBAWA2 buku Cellular and Molecular Immunology

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/335878209820009/

bantahan:

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/336503073090856/

special thanks to Mbak Alifah Davida yg menyempatkan waktunya utk confirm ke author nya

 

 

BUKAN dr.Tauhid Azhar yg berkata “Imunisasi dapat menganggu sistem imun yang sedang berkembang…” 

dari buku “Jangan ke Dokter Lagi” 

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/339561189451711/

 

 

KEBOHONGAN Desree Jennings ttg VAKSIN FLU yg menyebabkan Dystonia

http://www.youtube.com/watch?v=wwlRwGQl5x4

 

Ummu Salamah Al Hajjam bukan HTIhttps://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/337784056296091/

19 Juta Anak Belum Terjangkau Imunisasi

Senin, 23 Juli 2012 | 08:13 WIB

  

 
 

KOMPAS/MAHDI MUHAMMAD

Riset secara spesifik menyarankan agar para orangtua mengimunisasi anaknya setelah pukul 13.30.
 

 

KOMPAS.com – Setiap tahunnya, satu dari lima anak – atau sekitar 19 juta anak-anak di seluruh dunia – tidak terjangkau pelayanan imunisasi. Program imunisasi juga masih menjadi masalah di Indonesia. Karena sejak 2006, Indonesia termasuk sebagai salah satu dari enam negara yang  teridentifikasi memiliki jumlah tertinggi anak-anak yang tidak terjangkau imunisasi.

Demikian diungkapkan organisasi medis kemanusiaan dunia Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas dalam sebuah siaran pers menyambut Hari Anak Nasional yang jatuh pada Senin (23/7/2012) ini.

Menurut MSF, sekitar 70 persen dari anak-anak di Kongo, India, Nigeria, Ethiopia, Indonesia, dan Pakistan belum  terjangkau program imunisasi rutin tersebar. Rencana Aksi Vaksinasi Global senilai 10 milyar dolar AS akan sulit tercapai jika masalah-masalah utama pelaksanaan program imunisasi rutin masih belum terpecahkan.

Walaupun telah dibahas dalam pertemuan Dewan Kesehatan Dunia ke-65 yang dihadiri oleh para menteri kesehatan sedunia di Jenewa, Swiss, pada bulan Mei tahun ini, Rencana Aksi Vaksinasi Global cenderung berfokus pada pengembangan vaksin-vaksin baru untuk proyek vaksinasi selama 10 tahun ke depan –- dan tidak banyak membahas tentang perbaikan sistem vaksinasi yang ada saat ini.

Rencana Aksi Vaksinasi Global didasari atas asumsi bahwa pelaksanaan program-program imunisasi dasar telah berjalan dengan baik, dan sayangnya hal ini bukanlah kenyataan yang ditemui di berbagai wilayah tempat MSF bekerja.

“Untuk bisa menjangkau anak-anak yang belum terjangkau imunisasi kita perlu memprioritaskan pengembangan vaksin yang lebih murah, lebih mudah digunakan dengan sistem pengelolaan yang lebih efisien, serta lebih gampang dibawa/dikirim ke berbagai lokasi imunisasi,” ungkap Kate Elder, Penasehat Kebijakan Vaksinasi MSF.

Mayoritas vaksin yang tersedia saat ini diberikan dalam bentuk suntikan yang membutuhkan bantuan petugas kesehatan yang telah terlatih, dimana hal ini masih menjadi kendala utama di negara-negara dengan keterbatasan jumlah petugas kesehatan.

Untuk bisa mendapatkan paket vaksinasi lengkap, bayi/anak-anak harus mendatangi ke pusat-pusat imunisasi sebanyak lima kali dalam 12 bulan pertama kehidupan mereka. Hal ini masih menjadi masalah besar bagi anak-anak yang tinggal di wilayah-wilayah negara berkembang yang terisolasi  serta sulit dijangkau, atau mereka yang terkendala masalah biaya transportasi.  

Selain itu, vaksin juga harus disimpan dalam temperatur dingin yang merupakan salah satu masalah logistik terbesar untuk menjangkau negara-negara berkembang dengan iklim panas tanpa sistem penyimpanan pendingin dan akes aliran listrik yang memadai.

Menurut Elder, pemerintah negara-negara berkembang perlu mendesak pentingnya pengembangan produk-produk vaksin yang lebih murah, lebih mudah dikelola dan digunakan, dengan sistem penyimpanan yang lebih efisien, serta lebih gampang dibawa/dikirim sehingga upaya pelaksanaan program-program imunisasi rutin bisa lebih mudah menjangkau lebih banyak anak-anak.

Apalagi di  tahun 2015 mendatang, sekitar 14 negara akan kehilangan “jatah” dukungan donor GAVI (Global Alliances for Vaccines and Immunizations) atau Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi. Hal ini, ditambah dengan peluncuran vaksin-vaksin baru yang lebih mahal, berpotensi meningkatkan harga satu paket vaksinasi lengkap di negara-negara berkembang mencapai 38 dolar per anak.

Secara global, 20 persen bayi yang lahir setiap tahunnya tidak mendapatkan imunisasi dasar yang dapat melindungi mereka dari berbagai penyakit mematikan yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Penyakit campak masih tetap menghantui negara-negara Asia.

Setiap tahunnya, MSF memberikan vaksinasi kepada lebih dari 10 juta orang melalui intervensi tanggap darurat terhadap wabah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi seperti campak, meningitis, dan diferi. MSF juga mendukung upaya-upaya imunisasi rutin melalui proyek-proyek pelayanan kesehatan ibu dan anak. (*)

Sumber : Kompas

Saatnya Penuhi Hak Kesehatan Anak

Penulis : Asep Candra | Senin, 23 Juli 2012 | 14:15 WIB

  

 
 

BANAR FIL ARDHI

Salah satu bentuk aktivitas di Posyandu dalam memberikan edukasi nutrisi dan pemahaman kepada masyarakat tentang kesehatan ibu dan anak.
 

“Children are the world’s most valuable resource and its best hope for the future” — John F. Kennedy.

Kutipan mantan Presiden AS di atas menegaskan bahwa anak-anak adalah kekayaan paling berharga yang menentukan masa depan suatu bangsa. Menjaga dan memelihara kelangsungan hidup anak akan menentukan nasib sebuah bangsa di masa mendatang.

Menyambut Hari Anak Nasional yang  jatuh pada Senin (23/7/2012) ini, semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat, perlu menyadari kembali akan pentingnya melindungi serta mewujudkan hak dan kepentingan anak. Masih banyak persoalan yang dihadapi anak Indonesia sekarang ini. Tetapi, salah satu hak yang paling mendasar dan wajib dipenuhi adalah hak kesehatan, demi terciptanya generasi penerus bangsa yang sehat dan berkualitas.

Tak dapat dipungkiri, kualitas kesehatan anak Indonesia masih perlu mendapat perhatian serius. Hal itu dapat dilihat dari berbagai indikator kesehatan anak yang dilaporkan berbagai sumber. Indikator pertama yang menentukan derajat kesehatan anak adalah angka kematian bayi.

Menurut laporan Badan PBB untuk masalah anak-anak (UNICEF), tingkat kematian anak/bayi di Indonesia masih relatif tinggi. Kepala Bagian kelangsungan hidup dan perkembangan anak UNICEF, Dr Robin Nandy, dalam sebuah pernyataan resmi menyebutkan, saat ini diperkirakan 150.000 anak meninggal di Indonesia setiap tahunnya sebelum mereka mencapai ulang tahun kelima.  

Indikator kesehatan lainnya  adalah status gizi anak yang masih perlu diperbaiki. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2010 menunjukkan, prevalensi gizi buruk balita di Tanah Air masih 4,9 persen, meskipun angka ini sudah menurun dari 2007 yang mencapai 5,4 persen.  Anak balita yang masuk dalam kategori gizi kurang menurut Riskesdas 2010 masih bertahan pada angka 13 persen. Sedangkan prevalensi tubuh pendek (stunting) pada balita mencapai 35,7 persen atau mengalami penurunan dibanding 2007 (36,7 persen).

Dari sisi pencegahan penyakit, hak anak Indonesia mendapatkan imunisasi masih belum optimal. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, cakupan Universal Child Immunization (UCI) tahun 2010 adalah 75,3 persen. Tahun 2011, pencapaian UCI turun menjadi 74,1 persen.

Laporan yang disampaikan organisasi medis kemanusiaan dunia Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas menyebutkan, Indonesa termasuk sebagai salah satu dari enam negara yang teridentifikasi memiliki jumlah tertinggi anak-anak yang tak terjangkau imunisasi. Menurut MSF, sebanyak 70% dari anak-anak yang tidak terjangkau program imunisasi rutin tersebar di Kongo, India, Nigeria, Ethiopia, Indonesia, dan Pakistan.

Terkait kesehatan ibu

Beragam masalah kesehatan yang dihadapi anak pun tidak terlepas dari minimnya dukungan lingkungan sosial, dalam hal ini dukungan terhadap kaum perempuan/ibu. Masalah kesehatan anak memang terkait kesehatan ibu. Buruknya status kesehatan ibu akan sangat berpengaruh kepada anak.

Masih menurut UNICEF, hampir 10.000 wanita Indonesia meninggal setiap tahun karena masalah kehamilan dan persalinan. Padahal, masa kehamilan dan persalinan adalah salah satu fase vital bagi kelangsungan hidup anak. Kualitas kesehatan di masa kanak-kanak dan dewasa akan sangat ditentukan dari proses panjang sang ibu dari mulai sejak persiapan kehamilan, proses persalinan hingga fase tumbuh kembang anak.

Oleh karena itulah, Indonesia sedang berupaya memenuhi salah satu target Pembangunan Millenium (MDGs) di bidang kesehatan, yakni menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi. Target MDGs Indonesia untuk AKI diharapkan turun menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2015. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007, AKI masih bertahan pada angka 228 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan target MDGs untuk AKB adalah 23 per 1.000 kelahiran hidup tahun 2015. Tahun 2007, AKB 34 per 1.000 kelahiran hidup.

Perlu perhatian penuh

Kita tak dapat menyangkal bahwa hak perempuan Indonesia atas kesehatan, khususnya yang terkait anak,  belum mendapat perhatian sepenuhnya.  Padahal, saat ini ada lebih dari 39,8 juta perempuan atau 37,9% dari seluruh jumlah pekerja (104,87 juta jiwa, data BPS, 2009). Perempuan kini harus menghadapi beban ganda, karena selain berkewajiban mengurusi keluarga juga harus tetap bekerja. 

Ironisnya, masih sedikit perusahaan yang peduli untuk memberikan hak cuti hamil, bersalin dan menyusui kepada karyawan perempuan. Alhasil, banyak pekerja perempuan yang tidak mendapatkan haknya untuk mengurus bayinya dan menyusui minimal 3 bulan .

Padahal, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan adalah bagian penting dalam upaya memberikan nutrisi dasar dan menurunkan angka kematian bayi. Hasil penelitian membuktikan, pemberian ASI dapat menurunkan risiko kematian bayi hingga 22 persen. Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 33 tahun 2012 yang menjamin pemberian ASI eksklusif. Namun pada kenyataannya, masih banyak ditemukan kendala di lapangan.

Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak Kementerian Kesehatan Slamet Riyadi Yuwono mengakui, ada banyak penyebab rendahnya pemberan  ASI Eksklusif di Indonesia. Kendala itu di antaranya adalah belum semua kantor dan fasilitas umum membuat ruang menyusui, belum semua kantor dan fasum melaksanakan peraturan bersama Meneg PP, Menakertrans dan Menkes tentang peningkatan pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja, serta belum meratanya tempat menyusui dan memerah susu di tempat-tempat umum, kantor dan pabrik.

Mengingat begitu kompleksnya masalah yang dihadapi anak dan kaum perempuan, kita tentu berharap semua pihak terus meningkatkan dukungan bagi pemenuhan hak kesehatan mereka. Diperlukan suatu sinergi dan koordinasi yang baik antara pemerintah, masyarakat dan swasta dalam mewujudkan hak kesehatan ibu dan anak. Dengan memberi jaminan ketersediaan atas hak mereka, diharapkan  lahir generasi penerus yang sehat dan  membawa bangsa ini pada kemajuan dan kesejahteraan Indonesia yang lebih baik.  Semoga…

Sumber : Kompas

Penderita Hepatitis di Indonesia Capai 25 Juta

 

hepatitis


Mustofa Abas — HARIANTERBIT.COM
Jumat, 20 Juli 2012 20:52 WIB

 JAKARTA– Penderita Hepatitis B dan C di Indonesia mencapai 25 juta orang. Di dunia, penyakit ini menyebabkan 1,5 juta orang meninggal setiap tahunnya. Menurut Kementerian Kesehatan, penularan tertinggi virus hepatitis B dan C berasal dari ibu ke bayi, dan tenaga kesehatan merupakan profesi paling rentan tertular virus tersebut.

“Ibu hamil dalam penyebaran virus hepatitis B dan C adalah sebagai vertical transmision prevention, karena penularan tertinggi terjadi dari ibu ke bayi,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Mohammad Subuh dalam media briefing dengan tema
‘Masalah Hepatitis Sudah Didepan Mata’ di Jakarta, Jumat (20/7).

Untuk mengantisipasi dan mengeliminir penularan transmisi virus ini, kata dia, pihaknya sedang meyiapkan skema agar pencegahan penularan ibu ke anak masuk dalam program KIA (Kesehatan ibu dan anak) dengan mengintegrasikannya dalam antenatal care (pemeriksaan kehamilan,red).

Pada balita, lanjutnya, sejak tahun 1997 pemerintah telah memasukkan imunisasi Hepatitis B sebagai program imunisasi nasional. Sedangkan untuk Hepatitis C, hingga saat ini para peneliti dunia belum menemukan obatnya. “Hepatitis C ini yang jadi masalah, meski jumlahnya lebih sedikit dari hepatitis B, namun hepatitis C sama-sama berbahaya karena tidak saja dapat berkembang kronis, tapi juga dapat menimbulkan kematian,” ujarnya.

Sedangkan pada profesi, tenaga kesehatan dinilai yang paling rentan, karena terpapar langsung faktor risikonya. Dan Kementerian Kesehatan, pada tahun depan merencanakan untuk melakukan 5.000 sampel dari tenaga kesehatan, untuk melihSaat ini saja, Jaminan Kesehatan Masyarkat (Jamkesmas) belum mengcover obat hepatitis, dan kemungkinan baru tahun depan karena skemanya baru saja dimasukkanat seberapa besar presentase penyakit tersebut terjadi. “Tenaga kesehatan ini termasuk profesi paling rentan, karena mereka berhadapan langsung dengan penderitanya,” imbuhnya.

Sementara itu, dr. Rino Alvani Gani, Sp.PD, KGEH dari Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) menyatakan, mahalnya biaya therapi dan obat yang harus dikeluarkan penderita menjadi persoalan yang serius untuk mencegah penyakit ini pada fase kronis.

“Untuk menjalani therapi dan pengobatan, pasien harus mengeluarkan uang sampai ratusan juta. ,” tandasnya.

Dia menuturkan, penyakit hepatitis ini di Indonesia sudah seperti gunung es. Salah satu faktor disebabkan karena penyakit ini tidak menimbulkan gejala dan keluhan yang spesifik, sehingga banyak penderitanya yang tidak menyadari. “80 persen pasien hepatitis C dan B tidak meimbulkan gejala dan keluhan sampai terjadinya keluhan dihati.” //arbi

Sumber : Harianterbit

Banyak orang tidak sadar terkena hepatitis

Jumat, 20 Juli 2012 20:33 WIB | 1502 Views

Ilustrasi Hepatitis (istimewa)

 
 

Jakarta (ANTARA News) – Banyak orang tidak menyadari telah menderita penyakit Hepatits B atau Hepatitis C karena penyakit tersebut tidak menunjukkan gejala yang spesifik di tahap awal, kata Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Rino A Gani.

“Gejalanya baru muncul setelah penyakit itu parah atau lebih dari 10 tahun kemudian,” katanya di Jakarta, Jumat.

Lebih lanjut Rino mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak tahu karena gejalanya tidak ada, “Kalaupun ada, tidak spesifik. Gejala yang muncul seperti mual, lemas, capek tidak bisa langsung dikorelasikan dengan hepatitis”.

Rino membandingkannya dengan gejala penyakit lainnya seperti jantung yang biasanya merasa nyeri di dada kiri sehingga dapat langsung ditangani namun hepatitis B dan C tidak menimbulkan gejala hingga parah yang membutuhkan waktu hingga 40 tahun.

“Penyakit ini membutuhkan waktu lama untuk jadi parah, sekitar 30-40 tahun. Sirosis hati minimal butuh 20-30 tahun, kanker hati berkembang 20-30 tahun,” papar Rino.

Indonesia termasuk negara dengan prevalensi Hepatitis B dengan tingkat endemisitas tinggi yakni lebih dari 8 persen.

Penderita Hepatitis B dan C di Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta orang dengan 50 persen di antaranya menjadi penyakit hati kronik dan 10 persen lainnya menjadi kanker hati.

Sementara di dunia, sebanyak 2 miliar penduduk pernah terinfeksi Hepatitis B dan diperkirakan 240 juta di antaranya menderita Hepatitis B kronik dan sekitar 170 juta menderita Hepatitis C kronik.

“Sekitar 1,5 juta orang meninggal pertahunnya akibat Hepatitis B dan C,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemkes Mohammad Subuh.

Kementerian Kesehatan mengklaim telah melakukan penanggulangan Hepatitis dengan tindak pencegahan yaitu pencegahan primer dengan melakukan promosi dan imunisasi, pencegahan sekunder dengan penapisan (screening) dan pencegahan tersier dengan mencegah keparahan dan rehabilitasi penderita.

Penapisan saat ini adalah cara yang paling efektif untuk mengetahui seseorang terjangkit hepatitis atau tidak namun faktor biaya kerap menjadi alasan seseorang terutama yang tidak mampu untuk tidak melakukannya.

Subuh memaparkan tes cepat Hepatitis B dan C membutuhkan biaya Rp30-50 ribu per tes dan tes lanjutan membutuhkan biaya sekitar Rp100-150 ribu.

“Tapi ini baru `screening` awal, jika ditemukan positif, harus menjalani tes-tes konfirmasi lainnya sebelum ditetapkan sebagai orang yang harus menjalani perawatan,” kata Subuh.

Oleh karena masih tingginya biaya yang dibutuhkan itu, maka tidak heran jika penyakit jumlah penderita penyakit Hepatitis B dan C masih berupa “fenomena gunung es” di Indonesia.

“Diperkirakan hanya 10-20 persen saja yang terdeteksi, karena ini juga tidak menimbulkan gejala sampai kerusakan hati sudah jauh,” kata Subuh.

Tiap tanggal 28 Juli diperingati sebagai Hari Hepatitis Dunia yang merupakan hari lahir dari Dr. Baruch S Blumberg, penerima Hadiah Nobel karena menemukan virus dan vaksin Hepatitis B.

Untuk tahun 2012, peringatan Hari Hepatitis Dunia mengambil tema “It`s Closer than You Think” yang di Indonesia diterjemahkan menjadi “Masalah Hepatitis Sudah di depan Mata” yang menunjukkan betapa penyakit tersebut membutuhkan penanganan yang lebih serius dari yang ada saat ini.
(A043)

Sumber : Antara

Campak Bisa Dicegah dengan Imunisasi

Selasa, 17 Juli 2012 | 06:36 WIB

  

 
 

 

 
 Indira Permanasari

Penyakit campak belakangan merebak di sejumlah daerah di Tanah Air. Di Garut, Brebes, dan Sulawesi Tengah, misalnya, sempat dilaporkan kejadian luar biasa campak. Cakupan imunisasi yang belum memadai menjadi salah satu penyebabnya.

Penyakit campak tak bisa dipandang sebelah mata. Jika tidak ditangani dengan benar, hal itu dapat menimbulkan komplikasi berat.

Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Soedjatmiko mencontohkan, 5.818 penderita campak dirawat di rumah sakit pada 2009-2011. Sebanyak 16 penderita di antaranya meninggal.

Data Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan, persentase anak usia 12-23 bulan yang mendapat imunisasi campak di Indonesia rata-rata 74,4 persen.

Campak merupakan penyakit akut akibat virus anggota keluarga Paramyxovirus. Virus itu ditularkan lewat udara. Soedjatmiko yang juga editor buku Panduan Imunisasi Anak (2011) terbitan IDAI mengungkapkan, gejala campak antara lain demam, batuk, pilek, dan mata merah. Ruam khas campak muncul tiga hari sejak demam. Ruam mulai timbul di leher, belakang telinga, serta perbatasan rambut di kepala dan dahi. Ruam kemudian menyebar ke seluruh muka, leher, dada, perut, punggung, dan kaki.

Campak kerap kali dianggap biasa dan remeh. Padahal, virus campak dapat menimbulkan komplikasi akibat infeksi saluran pernapasan, telinga tengah, otak, dan gangguan kekebalan tubuh yang memudahkan penularan penyakit lain.

Serangan virus ke sel mukosa usus, misalnya, mengakibatkan diare berkepanjangan. Anak pun rawan kurang gizi. Komplikasi lain ialah munculnya gejala tuberkulosis paru setelah mengidap penyakit campak berat yang disertai pneumonia.

Penyulit lain yang bisa muncul setelah campak berat—walaupun terbilang jarang—ialah sindrom sklerotik pan-ensefalitis (peradangan otak) yang mengakibatkan penurunan fungsi saraf pusat. Gangguan itu dapat timbul belakangan, bertahun-tahun setelah infeksi. Begitu memasuki usia sekolah, anak mendadak mengalami kesulitan belajar akibat campak berat yang dialami ketika bayi.

Cegah dengan imunisasi

Campak dan komplikasinya dapat dicegah dengan pemberian vaksin campak. Vaksin campak ada yang diberikan dalam bentuk monovalen (didesain melawan satu jenis mikroorganisme), kombinasi vaksin campak dengan rubela (MR), kombinasi campak dengan gondongan dan rubela (MMR), serta kombinasi campak dengan gondongan, rubela, dan cacar air (MMRV).

Ketua Satgas Imunisasi IDAI Sri Rezeki S Hadinegoro dalam acara seminar bertajuk ”Menjawab Pemikiran yang Keliru terhadap Program Imunisasi” mengatakan, waktu imunisasi campak penting mengingat adanya antibodi ibu yang diturunkan kepada bayi. Antibodi campak dari ibu bertahan sembilan bulan di dalam tubuh bayi.

”Oleh karena itu, vaksin campak diberikan setelah bayi berusia sembilan bulan,” ujarnya. Untuk menjamin perlindungan pada masa anak, pemberian vaksin campak diulang pada usia enam tahun.

Panduan Imunisasi Anak (2011) menyebutkan, imunisasi campak tidak dianjurkan jika ada risiko reaksi alergi yang berat (shock anafilaksis) terhadap vaksin atau komponen vaksin dan penderita penyakit akut berat dengan atau tanpa demam.

Anak dengan penyakit akut ringan, pengobatan antibiotik, HIV tanpa gejala AIDS, sakit kronis jantung, paru, dan ginjal, sindroma down, bayi prematur, baru mengalami pembedahan, kurang gizi, dan riwayat sakit kuning saat lahir masih direkomendasikan mendapat vaksin.

Kejadian ikutan

Kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) campak, berdasarkan Immunization Safety Surveillance WHO (1999), yang mungkin muncul ialah reaksi lokal, seperti sakit, bengkak kemerahan pada tempat suntikan, ruam, dan demam yang kejadiannya mencapai 5-15 persen di dunia.

Reaksi lebih berat, seperti kejang demam, penurunan trombosit, anafilaksis (reaksi alergi akut), atau ensefalopati (gangguan otak) sangat jarang terjadi. Risiko ensefalopati 6-12 hari sesudah imunisasi, misalnya, kurang dari 1 dalam 1 juta dosis.

Menurut Sri, efek samping vaksin dipantau oleh Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan KIPI yang beranggotakan ahli vaksin, obat, epidemolog, peneliti, dan dokter.

Penghambat pemberian vaksin antara lain isu vaksin dapat menimbulkan penyakit tertentu. Vaksin MMR, misalnya, pernah dituduh menyebabkan autisme. Penelitian ahli pencernaan Inggris, Andrew Wakefield, yang mengaitkan MMR dengan autisme tahun 1998 sempat menggegerkan. Namun, setelah diaudit General Medical Council Inggris, penelitian Wakefield dinyatakan melanggar etika. Belakangan, pada 5 Januari 2011, British Medical Journal memublikasikan kebohongan data penelitian Wakefield.

”Sejauh ini tidak ada bukti menyatakan efek buruk antara imunisasi dan gangguan kesehatan lain. Sebaliknya, banyak penelitian yang mendukung bahwa dengan imunisasi, anak akan terhindar dari ancaman penyakit berbahaya, kecacatan, dan kematian,” kata Sri.

Dalam hal ini termasuk ancaman campak.

Sumber : Kompas

Menjawab Pemikiran Keliru tentang Imunisasi

Penulis : Lusia Kus Anna | Senin, 16 Juli 2012 | 13:15 WIB

 
 

 
 

shutterstock

 
 Kompas.com – Jika dulu imunisasi dipercaya akan mencegah anak terkena penyakit infeksi yang bisa menyebabkan cacat dan kematian, kini banyak orangtua menghindarinya dengan alasan imunisasi tidak aman.

Pendapat yang mengatakan bahwa imunisasi berbahaya kebanyakan dimuat pada buku, tabloid, atau milis yang umumnya dikutip dari artikel yang ditulis oleh psikolog, kolumnis, atau ahli herbal.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr.Badriul Hegar, Sp.A (K), mengungkapkan bahwa penyebaran informasi yang keliru mengenai imunisasi itu telah menimbulkan keresahan dalam masyarakat dan ketidaknyamanan praktisi kesehatan dalam melaksanakan tugasnya.

“Mengapa harus menghalang-halangi program imunisasi, karena itu sama saja dengan menempatkan anak pada lingkungan yang mengancam nyawa,” katanya dalam acara media edukasi Simposium Imunisasi IDAI ke-3 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, masih banyak anak-anak di Indonesia yang meninggal karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi. “Pandangan keliru tentang imunisasi akan mengganggu kemajuan program imunisasi di Indonesia,” tandasnya.

Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr.Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), menambahkan, cakupan imunisasi yang masih rendah di Indonesia berpotensi menyebabkan anak terkena wabah penyakit yang bisa menyebabkan cacat bahkan kematian.

“Di Indonesia program imunisasi sudah dicanangkan sejak puluhan tahun lalu tapi sampai saat ini kita masih terus bekerja keras memberi pemahaman pada masyarakat akan manfaat imunisasi,” kata Sri Rezeki, yang juga menjabat sebagai ketua satgas imunisasi IDAI ini.

Beberapa pemikiran keliru yang banyak beredar di Indonesia antara lain isu kehalalan vaksin, efek samping yang mengandung zat berbahaya, sampai isu konspirasi dari negara barat untuk meracuni penduduk negara berkembang.

Menurut dr.Sri, sejatinya masyarakat tidak perlu ragu akan keamanan dan manfaat imunisasi. Saat ini 194 negara di seluruh dunia melaksanakan dan menyatakan bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, bahkan kematian pada bayi dan anak-anak.

Efek samping akibat imunisasi yang disebut juga dengan KIPI atau kejadian ikutan pasca imunisasi, papar dr.Sri, sebenarnya ringan, misalnya saja bekas kemerahan, gatal, atau demam ringan.

“Ibu-ibu jangan takut pada KIPI karena yang seharusnya ditakuti adalah penyakitnya jika anak tidak diimunisasi,” imbuhnya.

Sementara itu isu bahwa imunisasi menyebabkan autisme juga ditolak para dokter. Isu bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme pertama kali dicetuskan oleh Wakefield, dokter di Inggris. Akan tetapi pada tahun 2011, tim penelitian di Inggris berhasil membuktikan bahwa Wakefield memalsukan data. Beberapa riset juga menunjukkan tidak ada kaitan antara autisme dengan imunisasi.

Beberapa kejadian wabah di Indonesia seharusnya cukup memberi pelajaran kepada orangtua akan bahaya jika anak tidak dilindungi vaksin.

“Kita tidak boleh gagal dalam program imunisasi karena biayanya dan efeknya luar biasa pada kualitas generasi mendatang. Lagi pula, uang rakyat juga yang akan terpakai untuk membiayai akibat dari wabah itu,” kata dr.Hanifah Oswari, Sp.A (K), dalam kesempatan sama.

Sementara itu mengenai isu kehalanan vaksin, Aminudin Yakub, Ketua Fatwa Majelis Ulama Indonesia, mengatakan bahwa imunisasi dalam sudut pandang Islam pada dasarnya diperbolehkan, bahkan dianjurkan untuk mencegah penyakit.

“Memang ada ketidaktepatan dalam menggunakan dalil-dalil Islam sehingga pengobatan cara Nabi dianggap holistik untuk menyembuhkan penyakit dan menolak cara medis ilmiah,” kata Aminudin.

Dia mengatakan vaksin yang dipakai dalam program imunisasi nasional aman dan telah mendapatkan izin MUI.

Sumber : Kompas

Adakah Efek Menunda Imunisasi?

Penulis : Lusia Kus Anna | Sabtu, 14 Juli 2012 | 14:23 WIB

   
 

shutterstock
 
 
 
Kompas.com –  Jadwal imunisasi yang dibuat oleh dokter sebenarnya dirancang berdasarkan efektivitas kerja vaksin dan reaksi kekebalan tubuh anak. Karena itulah pemberian imunisasi sesuai jadwal akan menghasilkan hasil yang optimal.

Tetapi kebanyakan orangtua sengaja menunda jadwal imunisasi karena kondisi anaknya dirasa sedang tidak fit. Adakah efek penundaan tersebut terhadap kekebalan tubuh anak?

Menurut dr.Hanifah Oswari, spesialis anak dari FKUI/RSCM Jakarta, pada dasarnya tidak ada kata terlambat untuk memberikan imunisasi pada anak. “Terlambat boleh saja selama si anak belum kena penyakitnya,” katanya.

Imunisasi merupakan usaha tubuh untuk membentuk kekebalan terhadap suatu penyakit. Jika jeda atau interval dari pemberian satu vaksin ke vaksin ulangannya cukup jauh, maka kemampuan tubuh untuk mengenali suatu virus atau bakteri menjadi lebih lama.

Hanifah menjelaskan, sebenarnya pilek, demam ringan, atau batuk bukanlah kontraindikasi terhadap imunisasi sehingga imunisasi tidak perlu ditunda. “Yang termasuk kontraindikasi adalah adanya gangguan kekebalan tubuh seperti anak yang menderita kanker atau HIV/AIDS,” tandasnya.

Namun apabila orangtua merasa cemas jika anaknya yang sedang kurang fit diimunisasi, boleh saja imunisasi ditunda beberapa hari.

Mengenai adanya efek samping setelah anak diimunisasi biasanya hal itu tergantung pada kekebalan tubuh. Efek samping yang sering ditemui pasca imunisasi antara lain bengkak dan kemerahan di sekitar lokasi suntikan, demam ringan, atau anak menjadi agak rewel.

Namun para ibu diharapkan tak perlu takut pada efek samping pasca imunisasi yang biasanya ringan. Yang perlu ditakutkan adalah penyakit yang mungkin timbul jika anak tidak dilindungi imunisasi.

Sumber : Kompas

Vaksin Lebih Efektif Bila Anak Cukup Nukleotida

Kamis, 12/07/2012 16:59 WIB

Merry Wahyuningsih – detikHealth

Jakarta, Vaksin wajib diberikan pada anak untuk dapat merangsang
kekebalan tubuhnya. Namun bila ingin vaksin bekerja lebih baik pada
tubuh, maka anak membutuhkan protein nukleotida yang bisa diperoleh dari
ASI dan susu balita tertentu.

Nukleotida merupakan protein yang dibutuhkan oleh tubuh untuk dapat
memperkuat kekebalan tubuh dan mempromosikan kesehatan sistem
pencernaan, terutama pada usia-usia pertumbuhan, sekitar 1 hingga 3 tahun.

Jenis protein ini terkandung di dalam ASI (air susu ibu), namun bila
sang anak tak cukup mendapatkan ASI, susu balita tertentu sudah dapat
menyediakannya.

“Nukleotida dibutuhkan pada anak dengan kondisi esensial, seperti kurang
asupan, pertumbuhannya cepat atau karena penyakit tertentu. Ini juga
berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi jaringan yang cepat membelah dan
membuat vaksin bekerja lebih baik,” ujar Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi,
konsultan tumbuh kembang-pediatri sosial.

Dr. Soedjatmiko menjelaskan nukleotida adalah jenis protein yang dapat
merangsang sel-sel pertahanan leukosit dan limfosit. Sel-sel ini juga
dirangsang oleh vaksin atau imunisasi yang diberikan pada anak.

Nukleotida dan vaksin kemudian akan bersinergi menghasilkan kekebalan
tubuh yang baik. Oleh karena itu, pada anak yang tercukupi nukleotida,
vaksin akan bekerja lebih baik tapi bukan berarti nukleotida dapat
menggantikan fungsi vaksin.

Nukleotida sebenarnya bisa diproduksi oleh tubuh, tapi pada masa
pertumbuhan kadang-kadang nutrisi ini tidak cukup sehingga dibutuhkan
dari susu tambahan.

“Nukleotida dan vaksin itu bersinergi tapi tidak dapat menggantikan
fungsi vaksin,” jelas Dr. Soedjatmiko, yang juga merupakan Sekretaris
Satgas Imunisasi PP IDAI.

Selain membuat fungsi vaksin lebih optimal, protein nukleotida juga
mempromosikan kesehatan pencernaan dan usus yang baik, meningkatkan
penyerapan zat besi yang membuat anak menjadi lebih cerdas dan aktif.

Sumber : Detik

Jutaan Bayi Tidak Terimunisasi Lengkap

Kamis, 12 Juli 2012 | 02:36 WIB

 
  Jakarta, Kompas – Jutaan bayi tidak terimunisasi lengkap. Akibatnya, mereka tidak terlindungi dari penyakit menular dan berbahaya. Cakupan imunisasi yang rendah menyulitkan pengendalian penyakit infeksi.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, cakupan Universal Child Immunization (UCI) tahun 2010 adalah 75,3 persen. Tahun 2011, pencapaian UCI turun menjadi 74,1 persen. UCI ialah cakupan imunisasi lengkap pada bayi (0-11 bulan) minimal 80 persen.

Indonesia menargetkan semua desa dan kelurahan mencapai UCI 100 persen tahun 2014. Program imunisasi dasar itu mencakup BCG, hepatitis B, DPT-HB, polio, dan campak.

Untuk tahun lalu, 25,9 persen bayi tidak terimunisasi lengkap. Padahal, tiap tahun, 4,5 juta-5 juta bayi lahir di Indonesia.

Masalah besar lain, cakupan imunisasi berbeda antardaerah. Tahun 2010, ada 17 provinsi dengan cakupan UCI di bawah 80 persen. Cakupan provinsi seperti Papua Barat, Maluku Utara, dan Aceh bahkan di bawah 60 persen. Adapun cakupan imunisasi DKI Jakarta, Bali, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah di atas 80 persen.

Riset Kesehatan Dasar 2010 menyebutkan, Papua mempunyai cakupan terendah untuk semua jenis imunisasi, yakni BCG (53,6 persen), campak (47,1 persen), dan polio 4 (40,5 persen).

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Tjandra Yoga Aditama, Rabu (11/7), mengatakan, hambatan terberat program imunisasi antara lain kondisi geografis, tenaga kesehatan yang berpindah-pindah, dan kampanye negatif imunisasi. Akibatnya, terjadi drop out imunisasi.

Guna mempercepat pencapaian UCI di semua desa/kelurahan, pemerintah mengadakan Gerakan Akselarasi Imunisasi Nasional UCI.

Penyakit merebak

Disparitas cakupan imunisasi antardaerah rawan menyebabkan merebaknya penyakit berbahaya yang dapat dicegah dengan imunisasi, seperti difteri, campak, batuk rejan, dan polio.

Sekretaris Satuan Tugas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Soedjatmiko mencontohkan, tahun 2009-2011 ada 5.818 penderita campak yang dirawat di rumah sakit. Sebanyak 16 penderita meninggal. Di Garut, Brebes, dan Sulawesi Tengah muncul kejadian luar biasa (KLB) campak.

Tiga tahun belakangan, penderita difteri di Jawa Timur meningkat pesat sehingga ditetapkan sebagai KLB. Penderita mencapai ratusan orang per tahun. Padahal, tahun 2000 tidak ada kasus difteri. Tahun 2001 muncul 18 kasus dan terus bertambah hingga April 2012 mencapai 1.859 kasus dengan 100 kematian menurut catatan Kemenkes.

”Di Jawa Timur, 40 persen kasus difteri terjadi pada orang tidak diimunisasi, 40 persen penderita diimunisasi tetapi tidak lengkap, dan 20 persen tidak ada data,” kata Soedjatmiko, Selasa.

Tjandra mengatakan, Kemenkes memperkuat imunisasi melalui kerja sama dengan praktisi kesehatan dan pemerintah daerah. Kemenkes memberikan bantuan sarana cold chain berupa peralatan pendingin untuk penyimpanan vaksin tahun ini.

Dalam seminar ”Menjawab Pemikiran yang Keliru tentang Program Imunisasi”, Selasa, Aminudin Yakub dari Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia mengatakan, imunisasi dalam pandangan Islam diperbolehkan dan dianjurkan guna mencegah penyakit. (INE)

Sumber : Kompas