Skip to content

Gerakan Antivaksin Rampas Hak Anak untuk Sehat

September 6, 2012

SETIAP tahun ada sekitar 2,4 juta anak usia kurang dari lima tahun di dunia meninggal, karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi. Di Indonesia sendiri, sekitar tujuh persen anak belum mendapatkan imunisasi. Salah satu masalah utamanya adalah penyebaran informasi yang tidak benar dan menyesatkan tentang imunisasi.

Gerakan anti imunisasi ternyata telah merebak di Indonesia. Bahkan, beragam seminar mengenai bahaya imunisasi digelar di berbagai institusi perguruan tinggi yang menghadirkan pembicara para ahli dan dokter. Masyarakat yang awam dengan vaksin pun menjadi ragu dan enggan memberikan anaknya imunisasi.

Di era teknologi yang sebar canggih ini, banyak orang tua kemudian mencari informasi mengenai imunisasi melalui internet. Namun ternyata, banyak sekali situs yang mempromosikan anti imunisasi. Jauh lebih banyak daripada situs yang mempromosikan imunisasi.

“Rata-rata isinya sama, artikel yang sama dicopy paste berulang-ulang dari satu situs ke situs yang lain dari satu blog ke blog yang lain. Artikel tersebut seolah-olah benar-benar evidence based, mencatut nama ahli-ahli, penelitian-penelitian, data dan angka, sehingga masyarakat menjadi gampang percaya” kata seorang dokter muda di Yogyakarta, Dr Yuli Kristyanto.

Penentang imunisasi di Indonesia itu beralasan, bahwa kekebalan tubuh manusia bisa tumbuh dengan sendirinya tanpa harus mendapatkan imunisasi. Lebih parahnya lagi, mereka menyebarkan kampanye hitam dengan mengatasnamakan agama. Seperti adanya kandungan babi, formalin dan logam berat dalam vaksin.

“MUI telah mengeluarkan fatwa, bahwa penggunaan vaksin polio di Indonesia dibolehkan. Sepanjang belum ada vaksin polio lain yang diproduksi sesuai syariah, karena hukumnya darurat. Kita juga tidak berani jika melakukan program tanpa konsultasi dengan MUI,” kata anggota Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, Prof. dr. Umar Fahmi Ahmadi.

Masyarakat seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan keamanan dan kehalalan vaksin yang beredar. Imunisasi sudah terbukti manfaat dan efektivitasnya, serta teruji keamanannya secara ilmiah.

“Sebenarnya hak setiap orang untuk tidak imunisasi, kita hanya bisa mengingatkan. Tapi secara teori, Anda perlu ke banyak tempat yang akan bersentuhan dengan virus. Kalau melakukan imunisasi, Anda akan mendapatkan perlindungan ganda atau kekebalan tambahan,” jelas Prof. dr. Umar Fahmi Ahmadi yang juga merupakan penulis buku ‘Imunisasi, Mengapa Perlu?’

Berdasarkan penelitian epidemiologi di Indonesia dan negara-negara lain, ketika ada wabah campak, difteri atau polio, anak yang sudah mendapat imunisasi dasar lengkap sangat jarang yang tertular. Bila tertular umumnya hanya ringan, sebentar dan tidak berbahaya.

Kalau anak tidak diberikan imunisasi dasar lengkap, maka tubuhnya tidak mempunyai kekebalan yang spesifik terhadap penyakit tersebut. Bila kuman berbahaya yang masuk cukup banyak, maka tubuhnya tidak mampu melawan kuman tersebut. Sehingga bisa menyebabkan sakit berat, cacat atau meninggal.

“Dengan tidak diimunisasi, sehingga berdampak pada tumbuh kembang anak yang tidak optimal dan menimbulkan kematian. Berarti hak tumbuh kembang anak terlanggar,” kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Maria Ulfah Anshor, dalam sebuah dialog di Metro TV.

Imunisasi adalah investasi terbesar bagi anak di masa depan. Imunisasi merupakan hak anak yang tidak bisa ditunda dan diabaikan sedikitpun. Tugas Anda sebagai orang tua untuk menjamin hak tersebut sampai kepada anak. (Wtr4)

Sumber : Metrotvnews

Advertisements

From → Artikel

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: