Skip to content

Menjawab logika miring “Jawaban terhadap uraian vaksinasi pertama kali oleh dokter muslim”

July 25, 2012

Diambil dari GESAMUN (https://www.facebook.com/#!/groups/GESAMUN/)

http://drhennyzainal.wordpress.com/2011/10/17/jawaban-terhadap-uraian-vaksinasi-pertama-kali-olh-dokter-muslim/

Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim

drhennyzainal.wordpress.com

Bismillah. Assalamu’alaykum wa rahmatullah. Perdebatan pro – kontra vaksin sepertinya kian memanas, mengingat
 
Komentar:
 
Umm HamzahAisha Griya Syar’i : ya disodori yg benar2 ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan saja. Di grup ini sudah banyak diskusi ttg menentukan mana tulisan2 yg layak dibaca dan mana yg sampah. Krn memang jelas berbeda antara keduanya.

Dalam menelusuri ilmu agama, kita akan memilih ulama2 yg sudah diakui kredibilitasnya oleh sesama ulama dan utk sampai bisa menyandang predikat “ulama” sekelas seorang Mufti ‘Am (misalnya) bukan hal mudah mencapainya maupun mempertahankannya.

Demikian juga dg bidang kedokteran. Itu sebabnya saya selalu menekankan pentingnya KOMPETENSI narasumber dalam mencari informasi.

Bukan untuk menuhankan mereka yg bertitel, melainkan utk mengetahui bahwa ybs memang sudah teruji dan akan terus diuji secara berkala kemampuannya utk layak memberikan informasi kepada khalayak.

 
Umm Hamzah Kembali ke komentar pertama yg dinukil dari artikel di status di atas :

“Prinsip dasar ASHI atau Inokulasi pada jaman itu hampir sama dengan prinsip vaksinasi alamiah yang masyarakat lakukan terhadap campak. Tentunya ayah bunda pernah mendengar anjuran banyak pihak bahwa jika ada yang sakit campak, maka biarkanlah anak kita tertular dengan demikian anak akan memiliki antibody terhadap penyakit tersebut dengan sendirinya.”

–> Sebagian dari pendapat ini ada benarnya JIKA kita menyingkirkan kemungkinan terjadinya komplikasi berat akibat campak (dan penyakit lainnya) DAN kemungkinan tertularnya ibu hamil terhadap campak yg berpeluang menyebabkan terjadinya cacat janin.

–> Pada kenyataannya, tidak semua penderita campak bisa bertahan dari komplikasi berat dan tidak semua ibu hamil terhindar dari tertular dan melahirkan bayi cacat.

–> Maka teori mencetuskan pembentukan antibodi secara alamiah dg cara menularkan penyakit kpd anak sehat sangat patut dipertanyakan. Bagi yg memiliki kemewahan hidup higienis di rumah kinclong dgn makan serba sehat lalu tertular tetapi tidak terjatuh kepada komplikasi atau melahirkan bayi cacat, akan sangat mudah tertawa. Bagaimana dengan mereka yg tidak memiliki kemewahan tsb shg mengalami komplikasi atau kematian atau melahirkan bayi cacat?

Dan mereka ADA di sekitar kita.

–> atau, to begin with : mari kita persilahkan para pencetus ide kembali ke jaman “dulu” ini mempraktekkan idenya terlebih dahulu kepada anak mereka. Supaya lebih mantab, dg penderita HIV atau Hep B sekalian (tanpa mengurangi rasa hormat kpd penyandang HIV atau Hep B).

 
Umm Hamzah ‎”Jika dianalisa dari tindakan vaksinasi “kuno”, bisa kita pahami bahwa jaman itu mereka TIDAK menggunakan bahan-bahan kimia seperti merkuri, garam alumunim, atau bahkan menggunakan media hewan haram dalam proses pengembangbiakkan kuman/virus.”

–> Dalam dunia medis dikenal sistem penentuan dosis. Dimana suatu zat yg pada dosis tertentu bisa berbahaya bagi kesehatan, pada dosis lain justru sangat bermanfaat. Penentuan dosis ini dilakukan dalam proses penelitian dan uji klinis yg berlapis, masih harus diaudit secara berkala. Hal yang sama dilakukan pada pemakaian berbagai bahan kimia di dalam proses pembuatan vaksin.

 
Umm Hamzah ‎”Bagaimanapun dalam hati kecil saya saat membaca dan mencari tahu lebih jauh, berpegangan pada prinsip bahwa seorang MUSLIM akan menghindari penggunaan bahan haram dan berbahaya.”

–> Islam mengajarkan umatnya untuk BELAJAR kepada AHLINYA. Bukan sekedar menghindar atau belajar kepada orang2 yg tidak memiliki keahlian di bidang yg ingin ditanyakan. Krn dg belajar itulah umat memperoleh pengetahuan utk menentukan apakah sesuatu hal memang patut dihindari atau justru layak digunakan.

 
Umm Hamzah ‎”Untuk mengetahui bagaimana peran garam alumunium dalam tubuh, silakan dibaca penelitian ini dimana garam alumunium yang disuntikkan kedalam tubuh seekor tikus memberikan kerusakan bahkan kehancuran dari sel setiap organ tikus tersebut.”

–> Penjelasan ttg aluminium telah diuraikan di atas. Manusia memiliki mekanisme yg sangat berbeda dari tikus. Tidak terhitung penelitian awal yg dilakukan pada hewan percobaan menyebabkan kerusakan organ, ternyata tidak menimbulkan efek yg sama pada manusia.

“Dosis yang digunakan tentunya disesuaikan dengan tubuh tikus tersebut. Lalu bagaimana dengan tubuh seorang bayi yang dilakukan berulang kali?”

–> Disesuaikan dg dosis utk bayi dan anak2. Dosis berbagai bahan yg dipakai dalam vaksin berada di bawah ambang berpengaruh bagi kesehatan.

 
Umm Hamzah ‎”Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jika kuman yang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan daya tahan tubuh yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh yang menerima vaksin tersebut. Dalam hal ini, siapakah yang berjalan-jalan membawa bahan penyakit dan memiliki resiko memberikan penularan kepada anak lainnya yang sehat? Sehat tanpa bahan kimia, sehat karena ibunya memberikan pengobatan ala Rasulullah shalallahu alayhi wasalam?”

–> Kuman dalam vaksin tidak akan menjadi aktif apalagi menginfeksi tubuh yg menerima vaksin tsb (penjelasan panjang lebar sudah diuraikan di berbagai jurnal penelitian dan di gesamun ini telah dibahas di banyak thread oleh tenaga2 medis yg KOMPETEN di bidangnya.

Selesai.

Silahkan menambahkan atau mengoreksi bagi yg berkenan.

 
Luna Amanda Artikelnya ga jelas. Kalau dibaca kutipan2nya kok justru menjustify vaksinasi. Tapi lumayanlah utk melihat “sisi lain”. Hebat jg bisa banyak yg mengikuti pahamnya dr HZ. Smoga manusia yg berakal diberi bimbingan selalu dari Allah dalam menggunakan akalnya. Soal buku mantan menkes sudah pernah baca. Saya tidak mengerti knpa “dibaca” bahwa beliau anti vax. Btw, thanks atas comments semua. Sgt informatif walo kadang merasa lost in translation dgn istilah medis.
 
Umm Hamzah ‎@ All : Slow down everybody…

Divinofta Syafindra : Kalau kita baca bagian ini :

The judge said the GMC panel failed to address whether Prof Walker-Smith had been doing research or simply investigating symptoms to help treat children. There had been “inadequate and superficial reasoning and, in a number of instances, a wrong conclusion”, he said.

Chief executive Niall Dickson added: “Today’s ruling does not however reopen the debate about the MMR vaccine and autism.

“As Mr Justice Mitting observed in his judgement, ‘There is now no respectable body of opinion which supports (Dr Wakefield’s) hypothesis, that MMR vaccine and autism/enterocolitis are causally linked’.

Kita telaah satu persatu, bukan dalam bentuk terjemahan, melainkan uraian atas maksud dari tulisan :

“The judge said the GMC panel failed to address whether Prof Walker-Smith had been doing research or simply investigating symptoms to help treat children.”

–> Pengadilan tidak menemukan dengan jelas apakah Prof. Walker Smith MEMANG TERLIBAT DALAM seluruh RISET tsb (bersama Wakefield) shg bisa dimintai pertanggungjawaban atas seluruh hasil riset atau hanya ikut serta pada tahap mendiagnosis gejala utk membantu merawat anak2 dalam riset Wakefield tsb.

“There had been “inadequate and superficial reasoning and, in a number of instances, a wrong conclusion”, he said.”

–> Tidak cukup alasan menuduh Prof. Walker-Smith sebagai orang yg ikut bertanggung jawab PENUH atas seluruh riset berikut hasilnya, shg kesimpulan yg diambil (memvonis beliau sbg turut bertanggung jawab atas seluruh hasil riset) dianggap tidak tepat. Org yg hanya mendiagnosis tidak bisa ditimpai tanggung jawab atas seluruh riset.

Bagian terpenting :

Chief executive Niall Dickson added: “Today’s ruling does not however reopen the debate about the MMR vaccine and autism.

“As Mr Justice Mitting observed in his judgement, ‘There is now no respectable body of opinion which supports (Dr Wakefield’s) hypothesis, that MMR vaccine and autism/enterocolitis are causally linked’.

–> Di sini justru ditegaskan bahwa tidak ada opini dari pihak2 yg kompeten di bidangnya yg mendukung hipotesis Wakefield ttg keterkaitan vaksin MMR dan autisme.

Advertisements

From → Pro - Kontra

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: