Skip to content

Penderita Hepatitis di Indonesia Capai 25 Juta

July 20, 2012

 

hepatitis


Mustofa Abas — HARIANTERBIT.COM
Jumat, 20 Juli 2012 20:52 WIB

 JAKARTA– Penderita Hepatitis B dan C di Indonesia mencapai 25 juta orang. Di dunia, penyakit ini menyebabkan 1,5 juta orang meninggal setiap tahunnya. Menurut Kementerian Kesehatan, penularan tertinggi virus hepatitis B dan C berasal dari ibu ke bayi, dan tenaga kesehatan merupakan profesi paling rentan tertular virus tersebut.

“Ibu hamil dalam penyebaran virus hepatitis B dan C adalah sebagai vertical transmision prevention, karena penularan tertinggi terjadi dari ibu ke bayi,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Mohammad Subuh dalam media briefing dengan tema
‘Masalah Hepatitis Sudah Didepan Mata’ di Jakarta, Jumat (20/7).

Untuk mengantisipasi dan mengeliminir penularan transmisi virus ini, kata dia, pihaknya sedang meyiapkan skema agar pencegahan penularan ibu ke anak masuk dalam program KIA (Kesehatan ibu dan anak) dengan mengintegrasikannya dalam antenatal care (pemeriksaan kehamilan,red).

Pada balita, lanjutnya, sejak tahun 1997 pemerintah telah memasukkan imunisasi Hepatitis B sebagai program imunisasi nasional. Sedangkan untuk Hepatitis C, hingga saat ini para peneliti dunia belum menemukan obatnya. “Hepatitis C ini yang jadi masalah, meski jumlahnya lebih sedikit dari hepatitis B, namun hepatitis C sama-sama berbahaya karena tidak saja dapat berkembang kronis, tapi juga dapat menimbulkan kematian,” ujarnya.

Sedangkan pada profesi, tenaga kesehatan dinilai yang paling rentan, karena terpapar langsung faktor risikonya. Dan Kementerian Kesehatan, pada tahun depan merencanakan untuk melakukan 5.000 sampel dari tenaga kesehatan, untuk melihSaat ini saja, Jaminan Kesehatan Masyarkat (Jamkesmas) belum mengcover obat hepatitis, dan kemungkinan baru tahun depan karena skemanya baru saja dimasukkanat seberapa besar presentase penyakit tersebut terjadi. “Tenaga kesehatan ini termasuk profesi paling rentan, karena mereka berhadapan langsung dengan penderitanya,” imbuhnya.

Sementara itu, dr. Rino Alvani Gani, Sp.PD, KGEH dari Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) menyatakan, mahalnya biaya therapi dan obat yang harus dikeluarkan penderita menjadi persoalan yang serius untuk mencegah penyakit ini pada fase kronis.

“Untuk menjalani therapi dan pengobatan, pasien harus mengeluarkan uang sampai ratusan juta. ,” tandasnya.

Dia menuturkan, penyakit hepatitis ini di Indonesia sudah seperti gunung es. Salah satu faktor disebabkan karena penyakit ini tidak menimbulkan gejala dan keluhan yang spesifik, sehingga banyak penderitanya yang tidak menyadari. “80 persen pasien hepatitis C dan B tidak meimbulkan gejala dan keluhan sampai terjadinya keluhan dihati.” //arbi

Sumber : Harianterbit

Advertisements

From → Artikel

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: