Skip to content

Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Vaksin Polio Khusus

October 25, 2003
Menimbang :

1. bahwa anak bangsa, khususnya Balita, perlu diupayakan agar terhindar dari penyakit

Polio, antara lain melalui pemberian vaksin imunisasi;

2. bahwa dalam program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) tahun 2002 ini terdapat sejumlah

anak Balita yang menderita immunocompromise (kelainan sistim kekebalan tubuh) yang

memerlukan vaksin khusus yang diberikan secara injeksi (vaksin jenis suntik, IPV);

3. Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang

berasal dari porcine (babi), namun dalam hasil akhir tidak terdeteksi unsur babi, dan

belum ditemukan IPV jenis lain yang dapat menggantikan vaksin tersebut;

4. bahwa oleh karena itu, Komisi Fatwa MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang

status hukum penggunaan IPV tersebut, sebagai pedoman bagi pemerintah, umat Islam

dan pihak-pihak lain yang memerlukannya.

Mengingat .

1. Hadis-hadis Nabi. antara lain: "Berobatlah, karena Allah tidak membuat penyakit kecuali

membuat pula obatnya selain satu penyakit, yaitu pikun"(HR. Abu Daud dari Usamah bin

Syarik). "Allah telah menurunkan pen yakit dan obat, serta menjadikan obat bagi setiap

penyakit; maka, berobatlah dan jariganlah hero hat dengan berzda yang haram "(HR.

Abu Daud dari Abu Darda ). "Sekelompok orang dari sukcu 'Ukl atau 'Urainah datang

dan tidak cocok dengan udara Madinah (sehingga mereka jatuh sakit); maka Nabi s.a.w.

memerintahkan agar mereka diberi unta perah dan (agar mereka) meminum air kencing

dari unta tersebut... "(HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik). "Allah tidak menurunkan

suatu penyakit kecuali menurunkan (pula) obatnya. " (HR. al-Bukhari dari Abu

Hurairah). Sabda Nabi s.a.w. yang melarang penggunaan benda yang terkena najis

sebagaimana diungkapkan dalam hadis tentang tikus yang jatuh dan mati (najis) dalam

keiu : "Jika keju itu ker°as (padat), buanglah tikus itu dan keju sekitarnya, dan makanlah

(sisa) keju tersebirt: namun jika keju itu cair, tumpahkaf7lah (HR alBukhari, Ahmad, dan

Nasa'i dari Maimunah isteri Nabis.a.w.)

2. . Kai dah-kai dah fiqh : "Dharar (bahaya) harus dicegah sedapat mungkin. "

"Dharar (bahaya) harus dihilangkan. "

"Kondisi hajah menempati kondisi darurat. "

"Darurat membolehkan hal-hal yang dilarang. "

"Sesuatu yang dibolehkan karena darurat dibatasi sesuai kadar (kebutuhan)-nya. "

3. Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga MUI periode 2000-2005.

4. Pedoman Penetapan Fatwa MUI.

Memperhatikan :

1. Pendapat para ulama; antara lain : ”Imam Zuhri (w. 124 H) berkata , ”Tidak halal

meminum air seni manusia karena suatu penyakit yang diderita , sebab itu adalah

najis ; Allah berfirman :’...Dihalalkan bagimu yang baik-baik (suci)......’ (QS. Al-

Matidah [5]: S)”; dan Ibnu Mas’ud (w 32 H) berkata tentang sakar (minuman

keras) , Allah tidak menjadikan obatmu sesuatu yang diharamkan atasmu ”

(Riwaayat Imam al-Bukhori)

2. Surat Menteri Kesehatan RI nomor: 11 92/MENKES/ IX/2002, tangga124

September 2002, serta penjelasan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit

Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Departemen Kesehatan,

Direktur Bio Farma, Badan POM, LP. POM-MUI, pada rapat Komisi Fatwa,

Selasa, 1 Sya'ban 1423/8 Oktober 2002; antara lain :

1. Pemerintah saat ini sedang berupaya melakukan pembasmian penyakit

Polio dari masyarakat secara serentak di seluruh wilayah tanah air melalui

program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dengan cara pemberian dua tetes

vaksin Polio oral (melalui saluran pencernaan).

2. Penyakit (virus) Polio, jika tidak ditanggulangi, akan menyebabkan cacat

fisik (kaki pincang) pada mereka yang menderitanya.

3. Terdapat sejumlah anak Balita yang menderita immunocompromise

(kelainan sistim kekebalan tubuh) yang memerlukan vaksin khusus yang

diberikan secara injeksi (vaksin jenis suntik, IPV).

4. Jika anak-anak yang menderita immunocompromise tersebut tidak

diimunisasi, mereka akan menderita penyakit Polio serta sangat

dikhawatirkan pula mereka akan menjadi sumber penyebaran virus.

5. Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya menggunakan

enzim yang berasal dari porcine (babi), namun dalam hasil akhir tidak

terdeteksi unsur babi.

6. Sampai saat ini belum ada IPV jenis lain yang dapat menggantikan vaksin

tersebut dan jika diproduksi sendiri, diperlukan investasi (biaya, modal)

sangat besar sementara kebutuhannya sangat terbatas.

3. Pendapat peserta rapat Komisi Fatwa d tersebut; antara lain:

1. Sejumlah argumen keagamaan (adillah diniyyah: al-Qur'an, hadits, dan

qawa'id fiqhiyyah) dan pendapat para ulama mengaj arkan; antara lain :

4. setiap penyakit dan kecacatan yang diakibat-kan penyakit adalah dharar (bahaya)

yang harus dihindarkan (dicegah) dan dihilangkan (melalui pengobatan) dengan

cara yang tidak melanggar syari'ah dan dengan obat yang suci dan halal;

5. setiap ibu yang baru melahirkan, pada dasarnya, wajib memberikan air susu yang

pertama keluar (colostrum, al-liba'-- kepada anaknya dan dianjurkan pula

memberikan ASI sampai dengan usia dua tahun. Hal tersebut menurut para ahli

kesehatan dapat memberi-kan kekebalan (imun) pada anak;

5. Dalam proses pembuatan vaksin tersebut telah terjadi persenyawaan/persentuhan

(ilhtilath antara porcine yang najis dengan media yang digunakan untuk pembiakan virus

bahan vaksin dan tidak dilakukanpenyucian dengan cara van2 dibenarkan syari'ah (tathhir

syar'an Hal itu menyebabkan media dan virus tersebut menjadi terkena najis

(mutanadjis).

6. Kondisi anak-anak yang menderita immunocompromise, jika tidak diberi vaksin IPV,

dipandang telah berada pada posisi hajah dan dapat pula menimbulkan dharar bagi pihak

lain.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

1. FATWA TENTANG PENGGUNAAN VAKSIN POLIO KHUSUS

2. Pertama : KetentuanHukum

1. Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari --atau

mengandung--benda naj is ataupun benda terkena naj is adalah haram.

2. Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise,

pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.

3. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari

ternyata terdapat kekeliruan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana

mestinya.

3. Pertama . Rekomendasi (Taushiah)

1. Pemerintah hendaknya mengkampanyekan agar setiap ibu memberikan ASI,

terutama colostrum secara memadai (sampai dengan dua tahun).

2. Pemerintah hendaknya mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO dan

negara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat Islam

dalam hal kebutuhan akan obat-obatan yang suci dan halal.

Ditetapkan di : Jakarta Padatanggal : 0 1 Sya'ban 1423 H. 08 Oktober 2002 M.

KOMISI FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua, Sekretaris

K.H. MA'RUF AMIN HASANUDIN

Selengkapnya bisa diunduh disini :
http://www.halalmui.org/images/stories/Fatwa/vaksin%20polio-khusus.pdf
Advertisements

From → Artikel

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: