Skip to content

Mengungkap Fakta Di Balik Kebohongan Gerombolan Anti Vaksin

Dari GESAMUN :

ANTIVAX UNVEILED

Kumpulan kebohongan2 para antivaksin dan bantahannya

scroll ke bawah utk update:

4 Juli 2012

12 Juli 2012

14 Juli 2012

1 Agustus 2012

9 Agustus 2012

antivax sering posting berita yg bikin galau, atau artikel yg salah translate,

yuk didokumentasikan, berita dr antivax dan bantahan nyaūüėÄ

biar tambah canggih kasih argumen nyaūüėÄ

BANTAHAN THDP KESALAHAN2 DLM BUKU YG DITULIS OLEH UMMU SALAMAH AL HAJAM

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/doc/322420914499072/

ARIKEL SESAT yg legendaris TENTANG VAKSIN

http://un2kmu.wordpress.com/2010/04/19/mengungkap-konspirasi-imunisasi-dan-bahaya-vaksin/

bantahan:

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/05/03/bahaya-imunisasi-telaah-tahap-i/

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/05/13/bahaya-imunisasi-telaah-tahap-ii/

KEBOHONGAN ttg TIDAK ADA VAKSINASI di ISRAEL 

http://www.nbn.org.il/aliyahpedia/healthcare/592-childhood-vaccinations-flu-shots-and-other-immunizations.html

urbanlegend yg bilang Bu SITI FADHILAH SUPARI itu antivax, bohong!

“Buku saya tidak membicarakan soal imunisasi. Tetapi mengapa sampai berdasarkan buku saya, mereka tidak imunisasi,” katanya.”

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/12/07/lvtlhq-wahbukunya-jadi-alasan-tolak-imunisasi-ini-jawaban-siti-fadilah-supari

KEBOHONGAN dg MENYEMBUNYIKAN FAKTA ttg ASI dan HIV

http://preventdisease.com/news/12/061512_New-Research-Shows-Breast-Milk-Blocks-HIV-Does-Not-Transmit-The-Virus-Contrary-To-Previous-Assumptions.shtml

bantahan:

dari dr.Any

ini penelitian kan tujuannya utk mengetahui apakah seorang ibu yg HIV+ diperbolehkan memberikan ASI kepada bayinya, karena memang sampe sekarang penularan HIV-AIDS lewat ASI itu debatable. jadi ga ada hubungannya dg vaksin2 yg kita gunakan. hati2 dg pernyataan yg sifatnya memelintir kesimpulan penelitian.

dari dr.Laksmi Syarif

pada tulisan di link TS di preventivedisease.com ada ketidakjujuran dlm penulisan ulang dari jurnal aslinya. Di jurnal asli, author menulis bahwa HIV dapat ditularkan melalui ASI, namun apabila si ibu tidak dapat menyediakan pengganti ASI secara terus menerus, tidak tersedia air bersih untuk membuat PASI maka pemberian ASI termasuk aman selama ibu dan bayi mendapat obat ARV.Jadi jurnal tersebut bertujuan untuk melihat seberapa aman pemberian ASI dari ibu HIV yg mendapat ARV, bukan utk mencegah atau mengobati HIV. Hati2 preventivedisease.com termasuk web antivac, ada iklan jualan suplemen disitu ;p

jurnal asli:

http://www.plospathogens.org/article/info:doi/10.1371/journal.ppat.1002732

AUTISME pada MONYET

http://vactruth.com/2012/04/29/monkeys-get-autism/

bantahan:

**link di Gesamun

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/324859597588537/

**sumber asli

http://scienceblogs.com/insolence/2010/07/16/too-much-vaccineautism-monkey-business-f/

MR. JERRY GRAY yg terkenal

http://mayaayu.multiply.com/journal/item/106

bantahan:

http://genenetto.blogspot.com/2011/10/menjawab-kritikan-terhadap-artikel.html

http://genenetto.blogspot.com/2011/10/jangan-menolak-vaksinasi-untuk-utamakan.html

KEBOHONGAN yang MEMBAWA2 buku Cellular and Molecular Immunology

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/335878209820009/

bantahan:

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/336503073090856/

special thanks to Mbak Alifah Davida yg menyempatkan waktunya utk confirm ke author nya

Antivax mencatut nama Prof.Ati dari IPB ttg “fatwa haram dari LPPOM MUI”https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/348820941859069/BUKAN dr.Tauhid Azhar yg berkata “Imunisasi dapat menganggu sistem imun yang sedang berkembang…”¬†

dari buku “Jangan ke Dokter Lagi”¬†

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/339561189451711/

KEBOHONGAN Desree Jennings ttg VAKSIN FLU yg menyebabkan Dystonia

http://www.youtube.com/watch?v=wwlRwGQl5x4

Ummu Salamah Al Hajjam bukan HTI

  https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/337784056296091/

KEBOHONGAN dg MENUTUPI DATA ttg pengujian vaksin DTaP Tripediadan pemahaman yg separuh2 

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/346156782125485/

penjelasan

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/346157525458744/

Perlu Ga Sih Obat Demam Setelah Imunisasi?

Situasinya:

“Alhamdulillah, anakku ga demam setelah imunisasi”
“Aduuuh, anakku demam setelah imunisasi, cepat berikan obat penurun demam”

Setiap orang tua pasti ingin melindungi putra-putrinya dari penyakit. Selain ASI, salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kekebalan tubuh anak melalui imunisasi. Selain mudah juga paling efektif dalam pencegahan berbagai macam penyakit menular.

Namun sebagian orang tua sering kali dibuat panik karena setelah imunisasi, terkadang ada anak yang malah demam. Disisi lain, tersebarnya informasi yang keliru secara massive baik di media cetak maupun elektronik, khususnya internet oleh segelintir orang yang tidak mengerti apa itu Imunisasi, hanya bertujuan untuk mengeruk kepentingan pribadinya, menyebabkan banyak orang tua bingung dan bahkan tak sedikit yang malah enggan untuk memberikan imunisasi kepada anaknya. Padahal demam merupakan suatu kondisi yang wajar sebagai dampak reaksi tubuh sebaliknya yang paling mendasar dan sering dilupakan orang tua adalah hak anak tidak diberikan dan atau tidak diimunisasi yang justru anak dihadapkan pada resiko terpapar yang lebih besar dari penyakit-penyakit yang dapat membahayakan jiwanya, kalau sudah begitu bukan hanya menguras energi tapi juga uang.

Survey data Riskesdas 2013, alasan utama orang tua tidak meng-imunisasi anaknya adalah karena takut demam sebesar 28,8%, keluarga tidak mengijinkan 26,3% dan 21,9% dengan alasan tempat imunisasi jauh.

Demam Setelah Imunisasi?

Demam setelah imunisasi adalah demam ringan dan tidak berlangsung lama(umumnya tidak lebih dari 2hari), terkadang timbul setelah anak mendapatkan imunisasi. Biasanya demam yang timbul bersifat ringan dan tidak pernah mencapai suhu lebih dari 38,5 derajat celsius.1,2,6
Mengapa dapat Timbul Demam Setelah Imunisasi?

Demam yang timbul setelah imunisasi disebabkan oleh respon tubuh terhadap vaksin yang diberikan. Vaksin yang telah dilemahkan akan mentrigger sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi melalui serangkaian proses.1 Salah satu proses tersebut melibatkan timbulnya respon peradangan yang dapat memicu timbulnya demam. Namun demam pasca imunisasi bersifat ringan dan seringkali tidak membutuhkan penanganan khusus.2 ( Baca : Mamahami Demam )

Apa yang Perlu Saya Lakukan?

Beberapa hal yang dapat Anda lakukan:

1. Berikan anak Anda minuman yang cukup karena peningkatan suhu dapat meningkatkan kebutuhan cairan tubuh, cegah agar jangan sampai terjadi dehidrasi.4 ( Baca : Mengenal Tanda-tanda Dehidrasi ). Jika masih ASI Ekslusif terus berikan.7,8

2. Pastikan pakaian yang dipakai anak tidak terlalu ketat karena dapat mengakibatkan anak mudah kepanasan. 4,5

3. Ikuti nenek moyang kita, skin to skin alias kontak kulit alias berpelukan, bahasa kerennya “kangaroo care” cukup efektif meredam demam (Harrison dkk).8 (Baca : Manfaat Metode Kanguru )

4. Demam membantu sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi, sehingga tidak perlu untuk mengobati demam anak Anda dengan obat ( parasetamol maupun ibuprofen ), Kecuali demam yang membuat mereka sangat tidak nyaman atau sengsara/ menganggu waktu tidurnya.6

5. Jadikan Obat demam sebagai pilihan terakhir, bilamana hendak diberikan fahami betul anjuran/ dosis pemakainnya, bisa dilihat di brosur/ kemasannya, untuk parasetamol = 10-15mg/kgBB.3,4,5 ( Baca : Demam Pada Anak “Berfungsi” ).
Apa yang Tidak Pelu Saya lakukan?

Menyeka/ Kompres anak dengan air dingin/ kain lembab sangat tidak dianjurkan . Sebab dapat meningkatkan suhu tubuh akibat pembuluh darah anak menyempit.6
CATATAN PENTING OBAT DEMAM

Berdasarkan 2 penelitian terbaru 17 Oktober 2009 pada Anak-anak oleh Prof Roman Prymula dkk dan 4 Juni 2014 pada Dewasa (Hep B) oleh Anne.M.C.M dkk, Pemberian Parasetamol sebagi upaya pencegahan demam pada saat atau setelah imunisasi dapat mempengaruhi dan atau mengurangi respon imun/ menurunkan konsentrasi antibodi.5.9

Statement WHO :

Pemberian antipiretik/parasetamol untuk pencegahan sebelum atau segera setelah pemberian vaksin dapat menurunkan demam. Namun data, menunjukkan bahwa penggunaan parasetamol dapat mengurangi respon imun terhadap vaksin pneumokokus.9

Mudah-mudahan, setelah membaca informasi ini Anda tidak perlu khawatir lagi apabila putra-putri Anda mengalami demam setelah imunisasi.

Semoga informasi ini bermanfaat dan janganlah ragu untuk memberikan imunisasi kepada anak Anda karena itu Adalah Haknya.

(bapakeghozan)

Referensi :

1. Offit, Paul A. dan Louis M. Bell. Vaccines: What Every Parent Should Know. 1999: Macmillan
http://www.amazon.com/Vaccines-What-Every-Parent-Should/dp/0028638611

2. Central of Disease Control. Parent’s Guide to Immunization http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/parentsguide/downloads/parents-guide-508.pdf

3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Penjelasan Kepada Orang tua Mengenai Imunisasi
http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/penjelasan-kepada-orangtua-mengenai-imunisasi.html

4. Baby Centre Medical Advisory Board. Immunisation: What to Expect on The Day
http://www.babycentre.co.uk/a541968/immunisations-what-to-expect-on-the-day#ixzz2jCaoujFv

5. Prymula, Roman. Et al. Effect of prophylactic paracetamol administration at time of vaccination on febrile reactions and antibody responses in children: two open-label, randomised controlled trials. The lancet. 2009. 374 (1339-1350)
http://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(09)61208-3/abstract

6. What should I do if my child has a fever after a vaccination?http://www.nps.org.au/medicines/immune-system/vaccines-and-immunisation/for-individuals/side-effects-and-safety/what-should-i-do-after-my-childs-vaccination

7. Breastfeeding and Risk for Fever after Immunization
http://pediatrics.aappublications.org/content/early/2010/05/17/peds.2009-1911.abstract?ct=ct

8. http://pediatric-pain.ca/wp-content/uploads/2013/04/ReducingPainforPokesPodcastPresentationFINAL.pdf

9. http://www.who.int/immunization_standards/vaccine_quality/Synflorix_WHO_leaflet_EN_May_2011.pdf

STARTER KIT ANGGOTA GESAMUN: Kumpulan Permalink

Dari GESAMUN

HARGA, JADWAL DAN JADWAL SUSULAN VAKSINASI (sd.7tahun)

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/358212030919960/

 

 

PEMBAHASAN HALAL HARAM VAKSINASI

 

oleh Pak Nanung

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/317786238295873/

 

oleh Umm hamzah

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/322246414516522/

 

oleh Mila Anasanti

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/345998728807957/

 

 

Penjelasan sederhana ttg pemakaian tripsin babi

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/321258207948676/

gambar:

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=4048508584822&set=o.312243985516765&type=3&theater

 

 

APAKAH TRANSFER DNA DARI BABI KE MANUSIA MEMUNGKINKAN? https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/352362208171609/

 

CARA KERJA VAKSIN DALAM TUBUH, dan mengapa pernyataan vaksin disuntikkan ke pembuluh darah itu KONYOL https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/354811017926728/

 

 

BENARKAH IMUNISASI ADALAH KONSPIRASI MELEMAHKAN UMAT?

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/355171097890720/ 

 

BENARKAH VAKSIN DARI  JARINGAN GINJAL KERA,GINJAL ANJING,EMBRIO MANUSIA,DLL?

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/321308697943627/

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/344372948970535/

 

PEMBAHASAN TTG AUTISME DAN VAKSIN YG TIDAK BERKAITAN

https://www.facebook.com/notes/robertus-arian-datusanantyo/vaksin-mmr-dan-autisme-tidak-berkaitan/286523444059

 

 

TESTIMONI BERKAITAN DG VAKSIN

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/331332330274597/

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/324253440982486/

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/317616494979514/

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/328810327193464/

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/328790823862081/

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/317295771678253/

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/328865577187939/

kumpulan kisah suksesūüôā

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/316462845094879/

 

 

 

 

PERAWATAN KIPI LANJUT DIJAMIN PEMERINTAH

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/346849685389528/

 

 

 

PENYIMPANAN VAKSIN–COLD CHAIN

bahkan utk daerah terpencil

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/334863653254798/

 

 

HERD IMMUNITY

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/333614653379698/

 

 

MERKURI DLM VAKSIN

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/321734377901059/

 

MERKURI DLM ASI

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/317796711628159/

 

 

KENAPA PENELITIAN ANAK VAKSIN DAN TIDAK VAKSIN SULIT DILAKUKAN?

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/322858187788678/

 

 

WABAH DI ZAMAN RASULULLAH, SAHABAT RASULULLAH YG MENINGGAL KRN WABAH

menanggapi info2 tidak benar yg berkata di zaman Rasulullah tidak ada wabah

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/332790380128792/

 

 

PENGARUH 1 KELUARGA ANTIVAX THDP SEKITAR

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/340134192727744/

 

 

SEKILAS MENGENAI KIPI

ibu2 bicara KIPI https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/334506606623836/

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/323793654361798/

TESTIMONI KIPI

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/318370264904137/ — John Salomone

 

SUDAH DIVAKSIN,MASIH SAKIT?

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/320486494692514/

 

 

THIBBUN NABAWI DAN KEDOKTERAN MODERN

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/324778800929950/?comment_id=324886584252505&offset=0&total_comments=171

 

 

VAKSINASI UNTUK ORANG DEWASA

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/328401910567639/

 

PENJELASAN SIMPEL MENGENAI SISTEM IMUN

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/342672762473887/

 

LAIN-LAIN

**perbedaan DTwP dan DTaP atau yg dkenal sebagai DTP “panas” dan “tidak panas” meskipun salah kaprah :phttps://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/341447039263126/

 

**Adakah pengaruh ASI terhadap efektivitas vaksin?https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/348848251856338/

 

tentang jarak antar vaksin, apabila vaksin terlambat

https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/348285798579250/

 

Benarkah pemberian vaksin mengakibatkan perubahan sikap dan perilaku karena masuknya DNA asing ke dalam tubuh bayi?

http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/permalink/352362208171609/

 

 

 

PERMALINK VERSI MOBILE

 

PEMBAHASAN HALAL HARAM VAKSINASI 

oleh Pak Nanung

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=317786238295873/

oleh Umm hamzah

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=322246414516522/

Oleh Mila Anasanti

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=345998728807957/

penjelasan sederhana ttg pemakaian tripsin babi

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=321258207948676/

 

BENARKAH VAKSIN DARI  JARINGAN GINJAL KERA,GINJAL ANJING,EMBRIO MANUSIA,DLL?

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=321308697943627/

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=344372948970535/

 

TESTIMONI BERKAITAN DG VAKSIN

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=331332330274597/

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=324253440982486/

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=317616494979514/

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=328810327193464/

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=328790823862081/

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=317295771678253/

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=328865577187939/

kumpulan kisah suksesūüôā

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=316462845094879/

 

CARA KERJA VAKSIN DALAM TUBUH, dan mengapa pernyataan vaksin disuntikkan ke pembuluh darah itu KONYOL

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=354811017926728/

 

BENARKAH IMUNISASI ADALAH KONSPIRASI MELEMAHKAN UMAT?

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=355171097890720/

 

PENYIMPANAN VAKSIN–COLD CHAIN

bahkan utk daerah terpencil

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=334863653254798/

HERD IMMUNITY

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=333614653379698/

MERKURI DLM VAKSIN

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=321734377901059/

 

PERAWATAN KIPI LANJUT DIJAMIN PEMERINTAH

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=346849685389528/

 

MERKURI DLM ASI

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=317796711628159/

KENAPA PENELITIAN ANAK VAKSIN DAN TIDAK VAKSIN SULIT DILAKUKAN?

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=322858187788678/

 

WABAH DI ZAMAN RASULULLAH, SAHABAT RASULULLAH YG MENINGGAL KRN WABAH

menanggapi info2 tidak benar yg berkata di zaman Rasulullah tidak ada wabah

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=332790380128792/

 

PENGARUH 1 KELUARGA ANTIVAX THDP SEKITAR

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=340134192727744/

 

VAKSINASI UNTUK ORANG DEWASA

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=328401910567639/

 

LAIN-LAIN

**perbedaan DTwP dan DTaP atau yg dkenal sebagai DTP “panas” dan “tidak panas” meskipun salah kaprah

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=341447039263126//

 

PENJELASAN SIMPEL MENGENAI SISTEM IMUN

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=342672762473887/

 

Benarkah pemberian vaksin mengakibatkan perubahan sikap dan perilaku karena masuknya DNA asing ke dalam tubuh bayi?

http://m.facebook.com/groups/312243985516765?view=permalink&id=352362208171609/

Gerakan Antivaksin Rampas Hak Anak untuk Sehat

SETIAP tahun ada sekitar 2,4 juta anak usia kurang dari lima tahun di dunia meninggal, karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi. Di Indonesia sendiri, sekitar tujuh persen anak belum mendapatkan imunisasi. Salah satu masalah utamanya adalah penyebaran informasi yang tidak benar dan menyesatkan tentang imunisasi.

Gerakan anti imunisasi ternyata telah merebak di Indonesia. Bahkan, beragam seminar mengenai bahaya imunisasi digelar di berbagai institusi perguruan tinggi yang menghadirkan pembicara para ahli dan dokter. Masyarakat yang awam dengan vaksin pun menjadi ragu dan enggan memberikan anaknya imunisasi.

Di era teknologi yang sebar canggih ini, banyak orang tua kemudian mencari informasi mengenai imunisasi melalui internet. Namun ternyata, banyak sekali situs yang mempromosikan anti imunisasi. Jauh lebih banyak daripada situs yang mempromosikan imunisasi.

“Rata-rata isinya sama, artikel yang sama dicopy paste berulang-ulang dari satu situs ke situs yang lain dari satu blog ke blog yang lain. Artikel tersebut seolah-olah benar-benar evidence based, mencatut nama ahli-ahli, penelitian-penelitian, data dan angka, sehingga masyarakat menjadi gampang percaya” kata seorang dokter muda di Yogyakarta, Dr Yuli Kristyanto.

Penentang imunisasi di Indonesia itu beralasan, bahwa kekebalan tubuh manusia bisa tumbuh dengan sendirinya tanpa harus mendapatkan imunisasi. Lebih parahnya lagi, mereka menyebarkan kampanye hitam dengan mengatasnamakan agama. Seperti adanya kandungan babi, formalin dan logam berat dalam vaksin.

“MUI telah mengeluarkan fatwa, bahwa penggunaan vaksin polio di Indonesia dibolehkan. Sepanjang belum ada vaksin polio lain yang diproduksi sesuai syariah, karena hukumnya darurat. Kita juga tidak berani jika melakukan program tanpa konsultasi dengan MUI,” kata anggota Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, Prof. dr. Umar Fahmi Ahmadi.

Masyarakat seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan keamanan dan kehalalan vaksin yang beredar. Imunisasi sudah terbukti manfaat dan efektivitasnya, serta teruji keamanannya secara ilmiah.

“Sebenarnya hak setiap orang untuk tidak imunisasi, kita hanya bisa mengingatkan. Tapi secara teori, Anda perlu ke banyak tempat yang akan bersentuhan dengan virus. Kalau melakukan imunisasi, Anda akan mendapatkan perlindungan ganda atau kekebalan tambahan,” jelas Prof. dr. Umar Fahmi Ahmadi yang juga merupakan penulis buku ‘Imunisasi, Mengapa Perlu?’

Berdasarkan penelitian epidemiologi di Indonesia dan negara-negara lain, ketika ada wabah campak, difteri atau polio, anak yang sudah mendapat imunisasi dasar lengkap sangat jarang yang tertular. Bila tertular umumnya hanya ringan, sebentar dan tidak berbahaya.

Kalau anak tidak diberikan imunisasi dasar lengkap, maka tubuhnya tidak mempunyai kekebalan yang spesifik terhadap penyakit tersebut. Bila kuman berbahaya yang masuk cukup banyak, maka tubuhnya tidak mampu melawan kuman tersebut. Sehingga bisa menyebabkan sakit berat, cacat atau meninggal.

“Dengan tidak diimunisasi, sehingga berdampak pada tumbuh kembang anak yang tidak optimal dan menimbulkan kematian. Berarti hak tumbuh kembang anak terlanggar,” kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Maria Ulfah Anshor, dalam sebuah dialog di Metro TV.

Imunisasi adalah investasi terbesar bagi anak di masa depan. Imunisasi merupakan hak anak yang tidak bisa ditunda dan diabaikan sedikitpun. Tugas Anda sebagai orang tua untuk menjamin hak tersebut sampai kepada anak. (Wtr4)

Sumber : Metrotvnews

Tentang seminar anti vaksin di Jogya (tulisan yg sama di grup RFC)

Dari GESAMUN

Masih ingat dengan seminar anti vaksin di Jogyakarta beberapa waktu lalu. Mengangkat tema ‚Äėkontroversial‚Äô¬† : ‚ÄúImunisasi lumpuhkan generasi‚ÄĚ (Pro kontra program imunisasi di Indonesia), kabar tentang seminar tsb tentunya menghentak kita para komunitas kesehatan maupun para ibu yang selama ini peduli dengan anaknya dan selama ini mengimunisasi anaknya. ¬†Informasi dari member RFC yang di Jogya, kegiatan tersebut akan diisi oleh 3 pembicara : Dr Jose Rizal SpOT (aktivis¬† MER-C), ibu DR Dr Siti Fadilah Supari SpJP yang mantan Menkes dan seorang¬† mualaf mantan tentara AS Jerry D Gray, penulis buku ‚ÄúRasululloh is my Doctor‚ÄĚ. Dua pembicara pertama tentu mengagetkan kita karena dua2nya dokter, yang satu dokter bedah ortopedi dan yang satunya lagi dokter Jantung yang pernah menjabat sebagai Menkes RI. Waktu itu dikatakan kegiatan akan diadakan di sebuah RS swasta besar RS JIH (Jogya International Hospital), hanya ketika dilakukan konfirmasi, pihak RS menyatakan telah membatalkan kegiatan tsb dengan alasan ruang pertemuannya sedang direnovasi. Ketika ditanyakan dipindahkan kemana, humas RS tidak dapat memberikan informasi. Member RFC di Jogya¬† juga tidak ada yang bisa memastikan kepindahan acara seminar terrsebut. Kalau ada yang mengetahui, member RFC waktu itu¬† diharapkan bisa datang dan melapori tentang kegiatan tersebut sehingga kita mendapat informasi materi pembicaraan di seminar tsb. Tapi memang tidak ada yang mengabari lebih lanjut tentang kegiatan seminar tersebut, beda dengan Diskusi Pro Kontra Imunisasi¬† tanggal 19 Mei lalu di Teater Titan, Bintaro dengan ¬†pembicara Dr HZ penggiat anti vaksin, Dr Piprim SpA (K), staf pengajar IKA FKUI/RSCM dan DR¬† Drh Hashim,seorang doktor dari IPB yg juga anggota LPOM MUI.¬† ¬†Pada waktu itu ada member RFC yang mengikutinya, bahkan ¬†ada yang melapori real time pembicaraan dalam diskusi tsb melalui Twitter.

 

Setelah lama berlalu, sampai akhirnya saya membaca tentang seminar anti vaksin tsb di Majalah atau Bulletin IDAI N0 81, edisi April 2012 yang kebetulan baru minggu ini saya peroleh. Salah satu topik di majalah tersebut adalah tentang Seminar Anti Vaksinasi  sebagaimana dilaporkan oleh koresponden majalah tersebut yang ada di Jogya.

 

Kegiatan semintar anti vaksin akhirnya berhasil dilaksanakan , tepatnya pada tanggal 4 Maret 2012, diselenggarakan oleh  bidang Pendidkan Kader,Yayasan Masjid dan Asrama Syuhada, Jogyakarta. Mengambil tempat di Covention Hall UIN Sunan Kalijaga Jogya dengan peserta dari berbagai kota di Jateng dan Jogya. Pesertanya membludak sampai 800 orang dari yang direncanakan sekitar 200 orang dengan membayar registrasi 30 ribu rupiah. Diketahui ternyata ibu DR Dr Siti Fadilah Supari akhirnya mengundurkan diri dalam kegiatan tersebut. Pembicara dalam seminar itu akhirnya ada 5 orang yaitu Dr Jose Rizal SpOT, Jerry D Gray, Drg Daryanto, Dr Mei Neni PhD SpA(K) dari IDAI cabang Jogya dan DR Amirsyah Tambunan, Sekjen MUI Pusat. Tiga pembicara terakhir dimungkinkan setelah IDAI Jogya dan Dinkes Jogya mendesak 3 pembicara tambahan tsb  kepada panitia untuk keberimbangan informasi dalam seminar tersebut.

 

Pada sesi pertama : Jerry De Gray,  seorang mualaf, mantan tentara AS keturunan Jerman menuturkan pengalamannya selama penugasan ybs mendapat berbagai macam vaksin yang hanya menyebabkan rasa sakit. Pembicara yang satu itu juga cerita (tentu saja tanpa didukung data) kalau AS menyebarkan virus lewat udara ke Indonesia dengan tujuan agar vaksin laku di pasaran (teori konspirasi ?). Jerrypun berpendapat : pada intinya kalau sakit yang harus dilakukan adalah bedoa, habatus saudah, konsumsi  bawang putih dan sembuh. Dikatakan juga vaksin adalah barang haram karena mengandung bahan merkuri  yang mengakibatkan meningkatnya kasus autisme. Sebagaimana yang dilaporkan koresponden Bulletin IDAI di Jogya : yang menarik adalah setiap pernyataan anti vaksin mendapat aplaus tepukan riuh peserta seminaryang ternyata sebagian besar dari komunitas anti vaksin (bahasa halusnya : vaccine awareness).

 

Pembicara ke dua adalah dr Jose Rizal Jurnalis, SpOT, dokter ortopedi yang aktif di kegiatan sosial kemanusiaan baik di Indonesia dan di luar Indonesia melaui lembaga MER-C. Beliau mengutarakan pengalamannya selama bertugas di Puskesmas, dimana dia memberikan juga vaksinasi tapi  hanya yang masuk program pemerintah. Vaksinasi  yang diberikan diluar program hanyalah bagian dari kolaborasi dokter, industri farmasi (tepatnya industri vaksin) dan Amerika Serikat.  Juga diungkit-ungkit tentang peran Namru, virus H5N1 dsb yang intinya adalah pesan Anti AS. Pada kesempatan itu juga beliau memutarkan video  tentang penyebaran virus lewat udara (lagi2 teori konspirasi?)

 

Pembicara ke 3 adalah Drg Daryanto dari Dinkes DIY yang menyampaikan cakupan dan keberhasilan imunisasi di wilayah Jogya.

 

Pembicara ke 4 Dr Mei Neni PhD SpAK  dari IDAI cabang Jogya, juga anggota Satgas Imunisasi IDAI yang menuturkan pengalaman pribadinya sendiri dimana anak2nya semua diimunisasi dan alhamdulillah semuanya sehat2 saja, mungkin untuk mengimbangi pernyataan pembicara sebelumnya. Selajutnya dalam kapasitasnya sebagai seorang ahli dan profesional di bidang kesehatan anak, ybs memaparkan bukti2 manfaat vaksin, mengkonfirmasi tentang tidak ada hubungannya vaksin dengan autisme, juga klarifikasi isyu2 vaksin yang keliru yang selama ini beredar.

Pembicara teraklhir adalah Sekjen MUI DR Amirsyah Tambunan. Beliau mengaskan tentang pentingnya pemberian vaksinasi sebagai upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan anak dengan menggarisbawahi pernyatan MUI menanggapi isu hal dan haram vaksinasi.

 

Seminar ini memang digagas oleh komunitas anti vaksin, tapi keberhasilan untuk menambah 3 pembicara lain selain yang sudah diplot panitia akhirnya mampu mengimbangi pesan anti vaksin yang mereka sebarkan. Mereka merencanakan agenda lanjutan untuk menggelar seminar serupa di beberapa kota  dan harus menjadi perhatian semua fihak yang berkepentingan.

Dari yang disampaikan di buletin IDAI tsb, memang kegiatan seminar anti vaksin tsb gaungnya sudah terdengar kemana-mana dan sempat ada ketidakjelasan penyelenggaraan seminar itu. Awalnya diinformasikan kegiatan tsb diadakan di RS JIH (dulu Jogya International Hospital), walau rasanya memang aneh RS swasta besar yang juga melayani imunisasi lengkap kok mau saja aulanya dijadikan pertemuan semacam itu. Bisa jadi setelah mengetahui maksud seminar sesungguhnya, pihak RS akhirnya membatalkannya.

Salut juga untuk kesigapan Dinkes dan IDAI Jogya mengantispasi kegiatan seminar anti vaksin yang bertujuan menyebarkan informasi dan opini yang keliru menyangkut vaksinasi. Kedepan, partisipasi semua fihak yang mendapat informasi seminar semacam ini, hendaknya menyampaikan informasi itu selekasnya ke Dinkes setempat. Dinkes nantinya akan bekerja sama dengan IDI/IDAI maupun MUI untuk mengantisipasi seminar2 semacam ini. Sebagaimana di Jogyakarta yang berhasil mendesak panitia untuk menambahkan pembicara untuk keberimbangan atau pelurusan informasi, hal yang sama diharapkan juga pada kota2 lain.  Dari perhimpunan dokter anak khususnya Satgas Imunisasi IDAI, kampanye anti vaksin juga sudah disadari betul. Di Jakarta awal Juli 2012 yang lalu diadakan kegiatan seminar baik untuk dokter umum, dokter anak maupun media(wartawan)   yang bertujuan untuk mengingatkan kembali pentingnya Imunisasi dan menjawab isyu2 yang dikemukakan oleh kelompok anti vaksin.

 

Harapan yang utama adalah : hati dan pikiran komunitas anti vaksin jadi lebih terbuka. Memang  agak janggal juga bila seorang mualaf lebih didengar ketimbang seorang sekjen MUI atau pernyataan tanpa data/fakta sahih atau teori konspirasi seseorang lebih didengar ketimbang yang disampaikan seorang pakar atau profesional yang menggeluti bidang tsb selama ini.

 

Wallahualam bisawab, semoga Alloh SWT selalu memberikan perlindungan dan hidayahNya pada kita semua.

Menjawab logika miring “Jawaban terhadap uraian vaksinasi pertama kali oleh dokter muslim”

Diambil dari GESAMUN (https://www.facebook.com/#!/groups/GESAMUN/)

http://drhennyzainal.wordpress.com/2011/10/17/jawaban-terhadap-uraian-vaksinasi-pertama-kali-olh-dokter-muslim/

Jawaban terhadap Uraian Vaksinasi Pertama Kali oleh Dokter Muslim

drhennyzainal.wordpress.com

Bismillah. Assalamu‚Äôalaykum wa rahmatullah. Perdebatan pro ‚Äď kontra vaksin sepertinya kian memanas, mengingat
 
Komentar:
 
Umm Hamzah ‚ÄéAisha Griya Syar’i : ya disodori yg benar2 ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan saja. Di grup ini sudah banyak diskusi ttg menentukan mana tulisan2 yg layak dibaca dan mana yg sampah. Krn memang jelas berbeda antara keduanya.

Dalam menelusuri ilmu agama, kita akan memilih ulama2 yg sudah diakui kredibilitasnya oleh sesama ulama dan utk sampai bisa menyandang predikat “ulama” sekelas seorang Mufti ‘Am (misalnya) bukan hal mudah mencapainya maupun mempertahankannya.

Demikian juga dg bidang kedokteran. Itu sebabnya saya selalu menekankan pentingnya KOMPETENSI narasumber dalam mencari informasi.

Bukan untuk menuhankan mereka yg bertitel, melainkan utk mengetahui bahwa ybs memang sudah teruji dan akan terus diuji secara berkala kemampuannya utk layak memberikan informasi kepada khalayak.

 
Umm Hamzah Kembali ke komentar pertama yg dinukil dari artikel di status di atas :

“Prinsip dasar ASHI atau Inokulasi pada jaman itu hampir sama dengan prinsip vaksinasi alamiah yang masyarakat lakukan terhadap campak. Tentunya ayah bunda pernah mendengar anjuran banyak pihak bahwa jika ada yang sakit campak, maka biarkanlah anak kita tertular dengan demikian anak akan memiliki antibody terhadap penyakit tersebut dengan sendirinya.”

–> Sebagian dari pendapat ini ada benarnya JIKA kita menyingkirkan kemungkinan terjadinya komplikasi berat akibat campak (dan penyakit lainnya) DAN kemungkinan tertularnya ibu hamil terhadap campak yg berpeluang menyebabkan terjadinya cacat janin.

–> Pada kenyataannya, tidak semua penderita campak bisa bertahan dari komplikasi berat dan tidak semua ibu hamil terhindar dari tertular dan melahirkan bayi cacat.

–> Maka teori mencetuskan pembentukan antibodi secara alamiah dg cara menularkan penyakit kpd anak sehat sangat patut dipertanyakan. Bagi yg memiliki kemewahan hidup higienis di rumah kinclong dgn makan serba sehat lalu tertular tetapi tidak terjatuh kepada komplikasi atau melahirkan bayi cacat, akan sangat mudah tertawa. Bagaimana dengan mereka yg tidak memiliki kemewahan tsb shg mengalami komplikasi atau kematian atau melahirkan bayi cacat?

Dan mereka ADA di sekitar kita.

–> atau, to begin with : mari kita persilahkan para pencetus ide kembali ke jaman “dulu” ini mempraktekkan idenya terlebih dahulu kepada anak mereka. Supaya lebih mantab, dg penderita HIV atau Hep B sekalian (tanpa mengurangi rasa hormat kpd penyandang HIV atau Hep B).

 
Umm Hamzah ‚Äé”Jika dianalisa dari tindakan vaksinasi ‚Äúkuno‚ÄĚ, bisa kita pahami bahwa jaman itu mereka TIDAK menggunakan bahan-bahan kimia seperti merkuri, garam alumunim, atau bahkan menggunakan media hewan haram dalam proses pengembangbiakkan kuman/virus.”

–> Dalam dunia medis dikenal sistem penentuan dosis. Dimana suatu zat yg pada dosis tertentu bisa berbahaya bagi kesehatan, pada dosis lain justru sangat bermanfaat. Penentuan dosis ini dilakukan dalam proses penelitian dan uji klinis yg berlapis, masih harus diaudit secara berkala. Hal yang sama dilakukan pada pemakaian berbagai bahan kimia di dalam proses pembuatan vaksin.

 
Umm Hamzah ‚Äé”Bagaimanapun dalam hati kecil saya saat membaca dan mencari tahu lebih jauh, berpegangan pada prinsip bahwa seorang MUSLIM akan menghindari penggunaan bahan haram dan berbahaya.”

–> Islam mengajarkan umatnya untuk BELAJAR kepada AHLINYA. Bukan sekedar menghindar atau belajar kepada orang2 yg tidak memiliki keahlian di bidang yg ingin ditanyakan. Krn dg belajar itulah umat memperoleh pengetahuan utk menentukan apakah sesuatu hal memang patut dihindari atau justru layak digunakan.

 
Umm Hamzah ‚Äé”Untuk mengetahui bagaimana peran garam alumunium dalam tubuh, silakan dibaca penelitian ini dimana garam alumunium yang disuntikkan kedalam tubuh seekor tikus memberikan kerusakan bahkan kehancuran dari sel setiap organ tikus tersebut.”

–> Penjelasan ttg aluminium telah diuraikan di atas. Manusia memiliki mekanisme yg sangat berbeda dari tikus. Tidak terhitung penelitian awal yg dilakukan pada hewan percobaan menyebabkan kerusakan organ, ternyata tidak menimbulkan efek yg sama pada manusia.

“Dosis yang digunakan tentunya disesuaikan dengan tubuh tikus tersebut. Lalu bagaimana dengan tubuh seorang bayi yang dilakukan berulang kali?”

–> Disesuaikan dg dosis utk bayi dan anak2. Dosis berbagai bahan yg dipakai dalam vaksin berada di bawah ambang berpengaruh bagi kesehatan.

 
Umm Hamzah ‚Äé”Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jika kuman yang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan daya tahan tubuh yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh yang menerima vaksin tersebut. Dalam hal ini, siapakah yang berjalan-jalan membawa bahan penyakit dan memiliki resiko memberikan penularan kepada anak lainnya yang sehat? Sehat tanpa bahan kimia, sehat karena ibunya memberikan pengobatan ala Rasulullah shalallahu alayhi wasalam?”

–> Kuman dalam vaksin tidak akan menjadi aktif apalagi menginfeksi tubuh yg menerima vaksin tsb (penjelasan panjang lebar sudah diuraikan di berbagai jurnal penelitian dan di gesamun ini telah dibahas di banyak thread oleh tenaga2 medis yg KOMPETEN di bidangnya.

Selesai.

Silahkan menambahkan atau mengoreksi bagi yg berkenan.

 
Luna Amanda Artikelnya ga jelas. Kalau dibaca kutipan2nya kok justru menjustify vaksinasi. Tapi lumayanlah utk melihat “sisi lain”. Hebat jg bisa banyak yg mengikuti pahamnya dr HZ. Smoga manusia yg berakal diberi bimbingan selalu dari Allah dalam menggunakan akalnya. Soal buku mantan menkes sudah pernah baca. Saya tidak mengerti knpa “dibaca” bahwa beliau anti vax. Btw, thanks atas comments semua. Sgt informatif walo kadang merasa lost in translation dgn istilah medis.
 
Umm Hamzah ‚Äé@ All : Slow down everybody…

Divinofta Syafindra : Kalau kita baca bagian ini :

The judge said the GMC panel failed to address whether Prof Walker-Smith had been doing research or simply investigating symptoms to help treat children. There had been “inadequate and superficial reasoning and, in a number of instances, a wrong conclusion”, he said.

Chief executive Niall Dickson added: “Today’s ruling does not however reopen the debate about the MMR vaccine and autism.

“As Mr Justice Mitting observed in his judgement, ‘There is now no respectable body of opinion which supports (Dr Wakefield’s) hypothesis, that MMR vaccine and autism/enterocolitis are causally linked’.

Kita telaah satu persatu, bukan dalam bentuk terjemahan, melainkan uraian atas maksud dari tulisan :

“The judge said the GMC panel failed to address whether Prof Walker-Smith had been doing research or simply investigating symptoms to help treat children.”

–> Pengadilan tidak menemukan dengan jelas apakah Prof. Walker Smith MEMANG TERLIBAT DALAM seluruh RISET tsb (bersama Wakefield) shg bisa dimintai pertanggungjawaban atas seluruh hasil riset atau hanya ikut serta pada tahap mendiagnosis gejala utk membantu merawat anak2 dalam riset Wakefield tsb.

“There had been “inadequate and superficial reasoning and, in a number of instances, a wrong conclusion”, he said.”

–> Tidak cukup alasan menuduh Prof. Walker-Smith sebagai orang yg ikut bertanggung jawab PENUH atas seluruh riset berikut hasilnya, shg kesimpulan yg diambil (memvonis beliau sbg turut bertanggung jawab atas seluruh hasil riset) dianggap tidak tepat. Org yg hanya mendiagnosis tidak bisa ditimpai tanggung jawab atas seluruh riset.

Bagian terpenting :

Chief executive Niall Dickson added: “Today’s ruling does not however reopen the debate about the MMR vaccine and autism.

“As Mr Justice Mitting observed in his judgement, ‘There is now no respectable body of opinion which supports (Dr Wakefield’s) hypothesis, that MMR vaccine and autism/enterocolitis are causally linked’.

–> Di sini justru ditegaskan bahwa tidak ada opini dari pihak2 yg kompeten di bidangnya yg mendukung hipotesis Wakefield ttg keterkaitan vaksin MMR dan autisme.

KOMPOSISI, PROSES PEMBUATAN & KEHALALAN VAKSIN

Oleh dr. Dirga Sakti Rambe (@dirgarambe)

 Apakah Anda termasuk orangtua yang memvaksinasi anak?

Jika ya, tahukah Anda zat-zat apa saja yang terkandung di dalamnya? Lalu bagaimana fungsi dan cara kerjanya?

Sebagaimana kita ketahui, vaksin dibuat untuk mencegah penyakit infeksi. Kandungan vaksin terdiri dari berbagai zat, yaitu Antigen (zat yang utama) dan Aditif (zat-zat lainnya).

Antigen sebagai kandungan utama¬†vaksin, berfungsi merangsang sistem imun tubuh, agar tubuh kenal ‚ÄúOh, si antigen X ini sudah pernah datang nih!‚ÄĚ. Antigen ini dapat merupakan bakteri/virus yang dilemahkan, mati total atau hasil rekayasa genetika. Setiap bakteri/virus punya antigen yang khas. Contohnya, vaksin flu yang memiliki antigen khas utk virus Influenza. Tidak mungkin pakai antigen Polio, misalnya.

Saat Antigen tersebut disuntikkan ke tubuh, sistem imun akan mengenali: ini dia si virus flu. Kemudian tubuh akan mengingatnya seumur hidup.

Apa efeknya?

Ketika ada virus Influenza ‚Äúbeneran‚ÄĚ yang menyerang, tubuh sudah mengenalinya. Dengan begitu virus tersebut langsung dimusnahkan sebelum berkembang menjadi penyakit

Sementara untuk orang yang belum divaksin Flu, saat terjadi serangan virus influenza, tubuh tidak memiliki memori tentangnya. Virus masuk dan sistem imun kerepotan menghadapinya sehingga kalah, lalu kita pun terserang penyakit.

Prinsip umum Antigen berlaku demikian utk semua penyakit yang tersedia vaksinnya. Kasus flu yang diangkat di atas hanyalah sekedar contoh saja.

Dari penelitian, diketahui bahwa Antigen perlu disertai oleh zat-zat lain agar kerjanya selalu optimal, kualitasnya terjaga dan harus sempurna. Antigen rentan sekali rusak, sehingga itulah sebabnya mengapa semua vaksin wajib disimpan dalam suhu 2-8 C (bahkan vaksin Polio -20 C). Antigen ini harus dilengkapi dengan zat-zat aditif/tambahan, seperti :

a)      Adjuvants,

b)      Preservatives

c)      Stabilizer

 Berikut ini pembahasannya satu-persatu :

a)      Adjuvants berfungsi memaksimalkan respons sistem imun tubuh. Antigen + Adjuvant dikenali jauh lebih cepat oleh tubuh daripada Antigen saja. Adjuvant yang paling sering digunakan antara lain garam aluminium. Alum ini sudah dipakai lebih dari  80 tahun. Apakah ia aman?

Dosis garam alum yang diizinkan adalah 1.14 mg/dosis vaksin (ketentuan FDA, Badan POM Amerika). Tidak ada satupun vaksin yang alumnya lebih dari nilai ini. Bagaimana dengan kabar yang menceritakan bahwa alum dapat merusak ginjal, otak dll?

Sekali lagi, dosis yang diizinkan itu kecil sekali dibandingkan dengan dosis yang dapat ditoleransi tubuh. Karena isu ini berkembang terus, pada Mei 2000, FDA mengundang ratusan ahli vaksin dari seluruh dunia, baik yang pro maupun yang kontra terhadap Alum, untuk saling beradu data. Kesimpulan FDA (tahun 2000, hingga kini tak berubah): Penggunaan garam aluminium pada vaksin dinyatakan aman dan efektif.

Sampai sekarang, Alum masih digunakan di mayoritas vaksin. Kita  tak perlu khawatir karena statusnya sudah dinyatakan aman oleh ratusan ahli.

b)      Preservatives.

Preservatives berfungsi untuk mencegah tumbuhnya bakteri/jamur selama proses pembuatan vaksin. Namun tidak semua vaksin menggunakan preservatives. Zat ini terutama digunakan di kemasan vaksin multidosis untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme.

Saat ini, hanya ada 4 jenis Preservatives yang diizinkan digunakan. Yang paling terkenal adalah Timerosal (turunan merkuri).

Isu aman-tidaknya Timerosal ini dimulai sejak awal 1990 di negara-negara Barat. Beberapa ahli menduga merkuri menyebabkan autisme & ADHD. Dengan adanya isu ini maka para ahli pun berkumpul kembali dan pada tahun 2000, badan POM dari USA mengeluarkan rekomendasi, yakni sebisa mungkin pabrik pembuat vaksin tidak menggunakan Timerosal.

Penelitian berlanjut di tahun 2001, dan organisasi IOM menyatakan bahwa data yang ada tak cukup kuat utk menyimpulkan apakah ada/tidak hubungan Timerosal dgn autisme.

Timerosal merupakan etil merkuri. Sifat etil merkuri SANGAT BERBEDA dengan metil merkuri. Etil merkuri yang digunakan dalam vaksin tidak akan terakumulasi dalam tubuh karena cepat dimetabolisme dan waktu paruhnya hanya 7 hari. Dosis yang digunakan pun amat sangat kecil. Sedangkan merkuri berbahaya yg selama ini sering kita dengar adalah bentuk metil merkuri, yang sifatnya berbeda dengantimerosal (etil merkuri).

Tahun 2004 IOM mengeluarkan kesimpulan final, yaitu tidak ada hubungan sebab-akibat antara vaksin yang mengandung Timerosal dengan kejadian autisme, ADHD, dll.  Namun sejalan dengan promosi kesehatan dunia bebas merkuri pada produk apapun (kosmetik, obat, dll), tetap dianjurkan produksi vaksin tanpa merkuri. WHO sendiri tetap memperbolehkan penggunaan Timerosal khususnya untuk vaksin multidosis. Vaksin yang diproduksi di AS dan Eropa saat ini bebas merkuri.

c) Stabilizer.

Fungsi zat ini adalah menstabilkan vaksin saat berada pada kondisi ekstrem, misalnya panas. Dosis yang digunakan amat kecil, yaitu < 10 mikrogram. Jenis-jenis Stabilizers antara lain: gula (sukrosa & laktosa), asam amino (glisin, asam glutamat) atau protein (albumin, gelatin).

Isu yang berkembang mengenai stabilizers adalah penggunaan stabilizer jenis protein (terutama gelatin) dapat menyebabkan reaksi alergi. Namun hal ini dibantah dengan fakta kejadiannya yang amat sangat jarang.

Selain Antigen dan Zat Aditif,  terkadang vaksin memiliki residu yang timbul selama proses pembuatan. Residu berupa: formaldehid, antibiotik, partikel2 mikroorganisme; yang kadarnya amat kecil, bahkan sering tak terdeteksi.

Terkait juga dengan kandungan vaksin, terkadang kita mendengar isu, benarkah proses pembuatan vaksin bersinggungan dengan zat dari babi?

Sebelumnya mari kita simak  tahapan proses produksi vaksin :

Bibit vaksin à fermentasi à panen à inaktivasi à purifikasi à ultrafiltrasi à formulasi/kemasan

Saat proses kultur substrat untuk menumbuhkan bibit beberapa (tak semua) vaksin, diperlukan penggunaan enzim Tripsin. Reaksi kimia tidak mungkin berjalan tanpa bantuan Tripsin. Akibatnya proses produksi vaksin pasti gagal tanpa Tripsin.  Dan saat ini, satu-satunya tripsin yang bisa digunakan untuk proses ini bersumber dari organ pankreas babi. Di sinilah letak perdebatannya.

Jika kita kembali pada proses produksi vaksin di atas, terdapat tahap ultrafiltrasi. Di sini secara kimiawi, unsur tripsin babi tadi hilang karena disaring sedemikian kecilnya dengan nanopartikel.

Namun ada sebagian pendapat yang menyatakan, ‚ÄúSekali bersinggungan dengan unsur dari babi, ya seterusnya akan tetap babi‚ÄĚ. Bagaimana dengan ini?

 

Sebagian ulama menyatakan vaksin tetap halal, karena beberapa pertimbangan :

  1. karena tanpa vaksin, banyak penyakit infeksi mematikan. Disini poin manfaat yang lebih besar daripada mudharat sangat diperhatikan. Dan selayaknya kita mengingat proses ultrafiltrasi tadi.
  2. Jikapun haram, vaksin dinyatakan halal karena pengganti Tripsin babi belum ditemukan. Ini merupakan alasan kedaruratan, dan para ulama terus menganjurkan untuk menemukan Tripsin non-babi yang sampai saat ini masih terus diusahakan.

Perlu pula kita ketahui bahwa tidak semua vaksin menggunakan Tripsin babi. Yang menggunakan antara lain : vaksin rotavirus (diare), beberapa merek vaksin flu, merek-merek tertentu vaksin Meningitis (namun yg Indonesia gunakan tidak mengandung) dan MMR.

Saya sendiri berkesempatan menyaksikan langsung proes pembuatan vaksin sejak tahap sangat awal hingga akhir. Saya katakan sangat luar biasa karena setiap tahap proses produksi vaksin ada quality control. Dipantau ketat dan nyaris tak ada celah karena semua sudah diantisipasi sedemikian rupa. Dan perlu kita ketahui bahwa proses produksi vaksin jauh lebih ketat dari obat, dengan standar yang amat tinggi.

Kesimpulannya, vaksin memiliki profil keamanan yang sangat baik. Sudah terbukti manfaatnya sehingga kita tidak perlu ragu.

Vaksin juga tidak bertentangan dengan ajaran Islam/agama manapun. Mayoritas ulama di seluruh dunia, termasuk dewan ulama di negara-negara Islam, juga Arab Saudi, tidak ada yang mengharamkan vaksinasi.

Diambil dari : https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/doc/333865316687965/

TERLALU BANYAK VAKSIN

terjemahan oleh Mbak Ira Indrawati

 

Terlalu Banyak Vaksin? Apa yang Sebaiknya Anda Ketahui Mengenai Hal ini

 

 

Saat ini, anak-anak kecil mendapatkan vaksin-vaksin untuk melindungi diri mereka dari 14 jenis penyakit yang berbeda-beda. Karena beberapa vaksin memerlukan lebih dari 1 dosis, anak-anak bisa mendapatkan sampai 26 kali pemberian vaksin sampai usia 2 tahun dan mereka bisa mendapatkan sampai 5 suntikan dalam satu waktu. Untuk alasan ini, beberapa orang tua meminta kepada para dokter untuk memberi jarak waktu di antara pemberian vaksin-vaksin, memisah-misahkan pemberian vaksin, atau menahan pemberian vaksin. Kekhawatiran terlalu banyak vaksin akan membuat sistem kekebalan tubuh bayi kewalahan dapat dimaklumi, tetapi bukti-bukti telah menunjukkan bahwa banyak vaksin tidak membebani sistem kekebalan tubuh bayi.

 

 

 

T (Tanya). Komponen-komponen aktif apa yang terkandung di dalam vaksin-vaksin?

 

J (Jawab). Vaksin-vaksin mengandung bagian-bagian dari virus atau bakteri yang merangsang respons kekebalan tubuh yang bersifat protektif (melindungi). Bahan-bahan aktif ini disebut komponen-komponen imunologis.

Vaksin-vaksin yang melindungi dari penyakit-penyakit infeksi bakterial dibuat dari protein- protein bakterial tersebut yang telah dibuat tidak aktif/dilemahkan (misalnya difteri, tetanus dan batuk rejan/pertussis) atau dari gula bakterial (bacterial sugar) yang disebut polisakarida (misalnya Haemophilus influenzae tipe B (Hib) dan pneumokokus). Setiap jenis protein bakterial atau polisakarida dianggap suatu komponen imunologis, artinya setiap jenis komponen imunologis tersebut membangkitkan satu respons imunologis tersendiri.

Vaksin-vaksin yang melindungi dari penyakit infeksi virus (misalnya campak, gondongan/mumps, campak Jerman/rubella, polio, rotavirus, hepatitis A, hepatitis B, cacar air, dan influenza) dibuat dari protein-protein viral. Seperti halnya protein-protein bakterial, protein-protein viral juga membangkitkan suatu respons imun.

 

 

 

T. Apakah anak-anak sekarang ini menghadapi lebih banyak komponen imunologis dari vaksin- vaksin dibandingkan dengan anak-anak 30 tahun yang lalu?

 

J. Tidak. Walaupun anak-anak zaman sekarang menerima lebih banyak vaksin daripada anak- anak sebelum mereka, kebanyakan orang mungkin akan terkejut ketika mempelajari bahwa jumlah komponen imunologis di dalam vaksin-vaksin telah berkurang secara dramatis.

Tiga puluh tahun yang lalu, anak-anak mendapatkan vaksin-vaksin yang melindungi dari 7 jenis penyakit: campak, gondongan/mumps, campak Jerman/rubella, difteri, tetanus, batuk rejan/pertussis dan polio. Jumlah keseluruhan protein bakterial dan viral yang terkandung di dalam vaksin-vaksin tersebut berjumlah sedikit lebih banyak dari 3.000 buah.

Sekarang ini anak-anak mendapatkan vaksin-vaksin yang melindungi dari 14 jenis penyakit, tetapi jumlah seluruh komponen imunologis di dalam vaksin-vaksin tersebut hanya sekitar 150 buah. Pengurangan dramatis ini adalah hasil dari kemajuan ilmiah yang memungkinkan terciptanya vaksin-vaksin yang lebih murni dan lebih aman.

 

 

 

T. Apakah terlalu banyak vaksin dapat membebani sistem kekebalan tubuh bayi ?

 

J. Tidak. Dibandingkan dengan tantangan-tantangan imunologis yang dihadapi oleh bayi setiap hari, maka tantangan dari komponen-komponen imunologis di dalam vaksin itu kecil sekali.

 Bayi mulai menghadapi tantangan-tantangan imunologis sejak ia dilahirkan. Rahim ibu adalah suatu lingkungan yang steril, bebas dari virus, bakteri, parasit, dan jamur. Tetapi setelah bayi-bayi keluar melalui jalan lahir dan memasuki dunia, mereka langsung dikoloni (didiami, dihuni) oleh triliunan bakteri, artinya bayi-bayi membawa bakteri-bakteri tersebut di tubuh mereka tetapi tidak terinfeksi/terjangkit oleh bakteri-bakteri itu. Bakteri-bakteri itu hidup di kulit, hidung, tenggorokan dan usus. Untuk menjamin bakteri pengkoloni tidak menyerbu aliran darah dan menyebabkan bahaya, bayi-bayi secara konstan membuat antibodi untuk melawan bakteri-bakteri itu.

Bakteri pengkoloni bukan permasalahan satu-satunya. Karena makanan yang kita makan dan debu yang terhirup oleh kita mengandung bakteri, maka tantangan-tantangan imunologis dari lingkungan tidak ada habisnya. Virus-virus adalah masalah lain. Dalam tahun-tahun pertama kehidupannya, anak-anak secara konstan mengalami pajanan dengan berbagai macam virus yang menyebabkan hidung meler, batuk, hidung tersumbat, demam, atau diare.

Mengingat bahwa bayi-bayi dikoloni oleh triliunan bakteri, di mana setiap bakteri mengandung sekitar 2.000 sampai 6.000 komponen imunologis, dan bahwa bayi-bayi terinfeksi berbagai jenis virus, maka tantangan dari 150 komponen imunologis di dalam vaksin itu kecil sekali dibandingkan dengan jumlah yang dihadapi oleh bayi-bayi dalam kehidupannya setiap hari.

 

 

 

 

T. Berapa banyak vaksin yang dapat ditangani secara efektif oleh anak-anak dalam setiap kali pemberian?

 

J. Jauh lebih banyak daripada yang mereka dapatkan saat ini.

 Tujuan diberikannya vaksin- vaksin adalah mendorong tubuh anak untuk membuat antibodi-antibodi yang bekerja dengan cara mencegah bakteri dan virus berkembang-biak dan menyebabkan penyakit. Jadi, berapa banyak antibodi yang dapat dibuat oleh tubuh bayi? Jawaban terbaik atas pertanyaan ini diberikan oleh seorang ahli imunologi di Massachusetts Institute of Technology, pemenang hadiah Nobel, bernama Susumu Tonegawa yang pertama kali memahami bagaimana tubuh manusia membuat antibodi-antibodi.

Tonegawa menemukan bahwa antibodi-antibodi dibuat melalui penyusunan-kembali dan pengkombinasian-kembali dari banyak gen yang berbeda dan ia mendapati bahwa manusia dapat membuat sekitar 10 milyar antibodi-antibodi yang berbeda. Dengan adanya sejumlah sel- sel pembuat antibodi di dalam aliran darah seorang anak dan sejumlah komponen-komponen imunologis yang terkandung di dalam vaksin maka adalah masuk akal untuk menyimpulkan bahwa bayi-bayi secara efektif dapat membuat antibodi-antibodi untuk sekitar 100.000 vaksin dalam sekali pemberian. Walaupun angka ini terlihat luar biasa, ingatlah bahwa setiap hari anak- anak mempertahankan dirinya dari tantangan-tantangan imunologis dari lingkungan yang jumlahnya jauh lebih banyak.

 

 

 

T. Bagaimana kita mengetahui bahwa beberapa vaksin dapat diberikan sekaligus secara aman?

 

J. The Food and Drug Administration (FDA) memerlukan pengujian-pengujian keamanan yang luas sebelum menerbitkan izin penggunaan vaksin-vaksin. Sebelum suatu vaksin baru dapat diterbitkan izinnya oleh FDA, vaksin itu pertama kali harus diuji melalui proses yang disebut ‚Äúconcomitant use studies‚ÄĚ. Concomitant use studies mengharuskan vaksin-vaksin baru diuji dengan vaksin-vaksin yang sudah ada.

Pengujian-pengujian ini dilaksanakan untuk memastikan bahwa vaksin-vaksin baru tidak mempengaruhi keamanan atau efektifitas vaksin-vaksin yang sudah ada yang diberikan di saat bersamaan, dan sebaliknya. Karena concomitant use studies telah dipakai selama beberapa puluh tahun, maka banyak pengujian yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa anak-anak dapat diberi banyak vaksin secara aman.

 

 

 

T. Apa bahayanya memisahkan, memberi jarak antar pemberian vaksin, atau menahan pemberian vaksin?

 

J. Menunda pemberian vaksin dapat berisiko. Keinginan sebagian orang tua untuk memisahkan, memberi jarak antar pemberian vaksin, atau menahan pemberian vaksin dapat dimaklumi. Bagaimanapun, pilihan itu belum tentu tanpa konsekuensi.

Pertama, menunda pemberian vaksin hanya meningkatkan waktu tunda di mana dalam jangka waktu tersebut anak-anak rentan terkena penyakit-penyakit menular tertentu ‚Äďbeberapa dari penyakit-penyakit menular tersebut masih cukup umum ditemui. Cacar air, batuk rejan/pertussis, influenza dan pneumokokus masih menyebabkan rawat inap dan kematian pada anak-anak yang sehat sekalipun setiap tahunnya. Sebelum vaksin cacar air ada, setiap tahun sekitar 70 anak meninggal akibat penyakit ini.

Kedua, memberi jarak antar pemberian vaksin atau memisahkan vaksin membuat anak-anak harus mengunjungi dokter lebih sering untuk mendapatkan vaksin. Para peneliti telah menemukan bahwa anak-anak mengalami jumlah stress yang sama tanpa menghiraukan apakah mereka menerima satu atau dua suntikan dalam suatu kunjungan ke dokter (tingkat stress diukur melalui jumlah hormon kortisol yang dikeluarkan ketika anak mengalami stress). Studi ini menyarankan bahwa walaupun anak-anak dengan jelas mengalami stress ketika disuntik, dua suntikan tidak menambahkan lebih banyak stress daripada satu suntikan. Dengan alasan ini maka lebih banyak kunjungan ke dokter yang disebabkan oleh pemisahan atau penjarangan pemberian vaksin sesungguhnya meningkatkan trauma jarum suntik.

 

 

 

Referensi-referensi:

Offit PA, Quarles J, Gerber MA, et al. Addressing parents’ concerns: Do multiple vaccines

overwhelm or weaken the infant’s immune system? Pediatrics. 2002;109:124-9. Tonegawa S, Steinberg C, Dube S, Bernardini A. Evidence for somatic generation of antibody

diversity. Proc Natl Acad Sci USA. 1974;71:4027-31. Cohn M, Langman RE. The protecton: the unit of humoral immunity selected by evolution.

Immunol Rev. 1990;115:9-147. Ramsay DS, Lewis M. Developmental changes in infant cortisol and behavioral response to

inoculation. Child Dev. 1994;65:1491-502.

 

Yordan Khaedir

‚ÄéCher Husty: yupp mbak cher, jaman semakin berkembang, dan ilmu pengetahuan juga, kalo dulu gak mengenal namanya DNA vaksin, skrg sudah ada, artinya antigen yang dimasukkan bukan hanya berupa bakteri utuh yang sudh mati/dilemahkan, melainkan hanya bagian dari DNA virus/bakterinya saja. Belum lagi ada unsur2 tambahan (adjuvant) yang jg berguna meningkatkan efektivitas vaksin, dan terpenting…semuanya yang beredar pasti selalu sudah melewati berbagai macam uji laboratorium (preklinik) dan uji klinis (clinical trial), pluss quality control yang ketat, so…don`t be hesitate to vaccinate your children,ūüôā
July 12 at 8:06am · Edited · Like · 5

Apakah Vaksin Aman?

Oleh Dr. Dirga Sakti Rambe (@dirgarambe)

 

Sebagai orang yang peduli terhadap kesehatan, terutama kita sebagai orangtua yang sangat memperhatikan kesehatan anak, seyogyanya kita memperhatikan asupan yang masuk ke dalam tubuh. Asupan itu bisa berbentuk makanan, minuman, maupun zat-zat lain yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh, semisal vaksin.

Apakah ia halal? Apakah ia juga aman sehingga terkategori sebagai thayyib (baik)?

 

Kita bisa memastikan suatu asupan itu halal dari zat maupun proses pembuatan/terbentuknya. Kita juga bisa memastikan asupan tersebut thayyib/baik, dari kandungan, nilai gizi, dan sebagainya. Termasuk juga vaksin dalam proses vaksinasi, yang kita lakukan sebagai bentuk penjagaan terhadap kesehatan tubuh.

 

Pembahasan mengenai kehalalan vaksin sudah dibahas di artikel tersendiri. Sekarang kita akan membahasnya dari segi keamanan.

 

Namun sebelum sampai pada pembahasan apakah vaksin itu aman atau tidak, kita perlu memahami logika berpikir dalam ilmu Kedokteran yang universal. Setiap tindakan/keputusan medis, selalu berdasar pada risk-benefit analysis (menimbang manfaat-mudharat). Tiap pilihan mengandung konsekuensi tersendiri. Sama saja sebagaimana setiap saat dalam kehidupan, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang mengandung risiko, dimana memutuskannya harus secara rasional dan sekaligus menggunakan hati.

 

Contoh sederhana, kita kelaparan di rumah dan harus ke warung untuk membeli nasi. Risiko tetap di rumah : kelaparan dan sakit. Risiko ke warung: ditabrak mobil saat menyeberang jalan.

 

Mana yang Anda pilih, tetap di rumah atau pergi ke warung? Saya yakin 99% ke warung. Risiko kelaparan  lebih nyata dan besar daripada risiko ditabrak. Setuju?

 

Kembali ke topik. Apakah vaksin aman atau tidak?

 

Pertanyaan ini menimbulkan pertanyaan dasar, apakah yang dimaksud dengan vaksin yang aman?

Bila yang kita maksudkan, vaksin yang aman adalah tanpa kemungkinan efek samping 100%, maka kita mendefinisikan aman secara keliru. Adakah produk medis (obat, operasi, Vaksin, dll) yang 100% pasti tanpa efek samping? Mau produk herbal atau apapun, sama saja! Tetap ada risikonya.

 

Definisi ‚Äúkeamanan‚ÄĚ (safety) dalam konteks produk medis adalah ‚Äúthe relative freedom from harmful effect to persons affected directly or indirectly by a product when prudently administered, taking into consideration the character of the product in relation to the condition of the recipient at the time. Thus, safety is relative and relational, it depends on the benefit/risk assessment at a particular point in time, the specific indication, and the intended recipient‚ÄĚ

 

Adakah tindakan/keputusan dalam keseharian kita yang tak mengandung risiko? Yang sifatnya pasti-pasti tentu hanya milik Allah SWT. Sementara kita sebagai manusia wajib berikhtiar.

 

Vaksinasi adalah ikhtiar/usaha manusia mencegah penyakit infeksi. Mayoritas penyakit-penyakit ini fatal, bisa menyebabkan kecacatan dan kematian.

 

Banyak sekali data yang menunjukkan keberhasilan vaksin dalam mencegah penyakit infeksi. Bahkan penyakit Smallpox musnah total dari muka bumi karena Vaksin. Sebaliknya, saat cakupan vaksinasi di suatu daerah menurun, penyakit-penyakit yang tersedia vaksinnya ini seketika mewabah.

 

Mari kita analisis data US CDC 2011 yang merupakan penelitian selama puluhan tahun. Data itu fakta dan ilmiah. Mengapa saya tekankan, karena ada banyak sekali informasi yang bertebaran di internet/hasil Googling yang belum tentu dapat dipercaya. Bacalah dari sumber yang terpercaya, mengingat tidak semua artikel dari Google itu benar. Perlu kehati-hatian dalam menyaring informasi agar tidak salah memahami apalagi bersikap dan bertindak.

 

Kita perlu memahami bagaimana sistem Imunitas tubuh kita bekerja.

 

 

 

Setelah membaca data CDC di atas, kira-kira mana yang lebih layak dipercaya, blog/artikel majalah, atau jurnal ilmiah/textbook dari para ahli di bidang tersebut?

 

Sekarang kita pertajam lagi dengan membandingkan ‚ÄúRisiko ¬†¬†¬†kena penyakit‚ÄĚ Vs ‚ÄúRisiko ¬†¬†¬†efek samping vaksin‚ÄĚ. Vaksin memiliki efek samping yang dikenal dengan KIPI (Kejadian Ikutan PascaImunisasi) / AEFI (Adverse Events Following Immunizations). Vaksin diberikan kepada orang sehat, sehingga keamanannya harus mencapai ‚Äúthe highest possible standards‚ÄĚ, tanpa kompromi. Pembuatan 1 jenis vaksin perlu waktu 8-15 tahun, melalui uji praklinis & uji klinis fase 1-2-3-4 yang melelahkan. Tujuannya hanya satu : keamanan.

 

KIPI didefinisikan sebagai segala kejadian medik yang terjadi setelah Imunisasi, bahkan sebelum dipastikan terdapat hubungan sebab-akibatnya atau tidak. Sekali lagi kita perhatikan, bahkan yang  belum tentu memiliki hubungan sebab-akibat dengan vaksin, dimasukkan juga sebagai KIPI, untuk dikonfirmasi kemudian. Ini bukti bahwa standar keamanan vaksin tinggi sekali. Contoh sederhananya, seorang anak diberikan permen oleh temannya di sekolah. Lalu ia pulang. Di jalan, ia ditabrak mobil. Apakah permen yang menyebabkan ia ditabrak?

 

Tidak semua KIPI disebabkan oleh vaksin. Suatu kejadian terjadi pasca vaksinasi mungkin saja digolongkan sebagai ‚Äėkoinsidens‚Äô (terjadi secara kebetulan dalam waktu bersamaan), sehingga memerlukan investigasi. ¬†99,3% KIPI ini ringan, misalnya yang paling sering adalah nyeri lokal di tempat suntikan dan demam. Itu sebabnya kita tidak perlu ketakutan berlebihan.

Demam akibat vaksinasi umumnya tidak tinggi. Demam bukanlah bukti bahwa vaksin tidak aman, namun demm adalah pertanda bahwa sistem imun tubuh bekerja sehingga kita tak perlu panik. Bila suhu tubuh mencapai lebih dari 38,5 derajat C, dapat diberikan Parasetamol.

 

Lebih jauh lagi, mari kita lihat perbandingan data ¬†‚Äúrisiko ¬†kena penyakit‚ÄĚ Vs ‚Äúrisiko efek samping vaksin‚ÄĚ. Saya beri contoh beberapa penyakit KIPI yang berat (karena KIPI ringan seperti demam, nyeri dll, seharusnya tidak menjadi masalah).

 

  • Penyakitt DIFTERI menyebabkan 1 KEMATIAN dalam 20 kasus (1:20). KIPI Vaksin DTP: Alergi berat 1: 50.000.¬†#Aman¬†http://t.co/iRuU6nxI
  • Penyakit TETANUS menyebabkan 2 KEMATIAN dalam 10 kasus (2:10). KIPI Vaksin DTP: Kejang 1: 14.000.¬†#Aman¬†http://t.co/5YJWrRGz
  • Penyakit CAMPAK menyebabkan 1 RADANG OTAK dalam 1000 kasus (1:20). KIPI Vaksin MMR: Alergi berat 1: 1.000.000.¬†#Aman¬†http://t.co/3yJnoxpQ
  • Penyakit POLIO menyebabkan 1 KELUMPUHAN dalam 50 kasus (1:50). KIPI Vaksin Polio: VAPP 1: 3.400.000.¬†#Aman¬†http://t.co/2lyCapSB

 

Angka kemungkinan terjadinya KIPI diperoleh dari penelitian puluhan tahun. Silakan bandingkan dengan risiko kena penyakitnya.

 

Dari data di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa :

  1. Vaksin adalah USAHA kita utk mencegah penyakit infeksi yang dpt berakibat kematian
  2. Vaksin yang aman BUKAN berarti 100% tanpa efek samping. Setiap produk medis & apapun keputusan dalam hidup, mengandung Risiko
  3. Vaksin yang aman : risiko terkena penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin JAUH LEBIH BESAR daripada risiko efek samping vaksin
  4.  Vaccines’ benefits clearly and definitively outweigh their risks. 

 

Demikian penjelasan saya mengenai vaksin yang aman. Semoga bermanfaat.

Like · Follow Post · Report · June 29 at 3:20pm

Rekomendasi Situs Vaksininasi/Imunisasi Terprcaya dari WHO

Vaccine safety web sites meeting credibility and content good information practices criteria

 

Each link below leads to a site summary and a link to the web site.

 

 

Sumber : http://www.who.int/immunization_safety/safety_quality/approved_vaccine_safety_websites/en/index.html

 

Jangan bersedih Indonesia ada GESAMUNūüôā – https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.